Tuesday, November 15, 2011

Review : Uncle Tom's Cabin


Bersabarlah! Bersabarlah! Wahai kalian yang hatinya membengkak dan marah terhadap perbuataan seperti ini. Tidak satu degup penderitaan pun, tidak satu butir air mata pun dari mereka yang tertindas, dilupakan oleh Pria yang sengsara, Penguasa Kemuliaan. Dalam dadanya yang sabar dan murah hati, Dia menanggung penderitaan dunia. Tanggunglah, seperti dirinya, dengan sabar, dan berusaha dengan cinta; karena pasti demikian pula dengan TUhan, “saat penebusan akan datang” (Hal. 185)




“Jadi, andalah wanita mungil yang menulis buku yang memicu perang besar ini?” adalah kata-kata yang diucapkan oleh presiden Amerika Serikat legendaries Abraham Lincoln kepada Harriet Beecher Stowe mengacu pada novel ini.  (dikutip dari sinopsis belakang cover serambi).

Lewat Uncle Tom’s Cabin, Stowe menyatakan kekecewaan dan dukanya yang paling dalam terhadap kondisi kehidupan Amerika sekitar tahun 1850an. Uncle Tom’s Cabin dirangkai dengan sangat teratur dan tajam oleh Stowe sehingga memicu kesadaran dan goncangan luar biasa pada masyarakat Amerika di masa itu. Tokoh sentral di dalam novel ini adalah Tom, seorang budak kulit hitam di rumah keluarga Shelby, seorang yang taat dan tetap setiap kepada imannya bahkan di tengah kondisi yang paling hina dan menderita. Ia menjadi lambang kerendahan hati dan kebaikan serta kesetiaan yang luar biasa.

Di dunia ini ada jiwa-jiwa yang mulia, yang dalam penderitaannya bangkit untuk membahagiakan orang lain; yang harapan duniawinya, terbaring di pusara diiringi uraian air mata, menjadi bibit yang menumbuhkan bunga-bunga kesembuhan dan pelipur lara bagi mereka yang kesepian dan menderita (Hal. 127)

Tuan Shelby adalah seorang tuan yang baik bagi para budaknya, namun hutang mendesaknya untuk memilih menjual beberapa budaknya atau harus kehilangan semuanya. Singkatnya Tom yang malang itu harus terpaksa dijual untuk menyelamatkan keluarga Shelby dan budak lain yang berlindung pada keluarga itu, termasuk keluarga Tom sendiri. Selain Tom dan keluarganya, ada juga Eliza, wanita muda yang cantik, cerdas dan berani yang hidup bersama mereka. Ketika mendengar bahwa anaknya, Harry, akan dijual bersama Tom, keberanian untuk menyelamatkan anaknya bangkit dan memicunya mengambil tindakan yang luar biasa berani dengan melarikan diri. Tom menunjukkan kerelaan hati dan kesabaran luar biasa ketika ia terpaksa dijual, sementara Eliza menunjukkan keberanian yang tidak kalah luar biasa untuk melindungi anak satu-satunya akan hampir direnggut darinya.

Begini, Tuan George, Tuhan kasih banyak kebaikan-kebaikan dua kali lipat lebih besar; tapi Dia hanya kasihkan kita ibu satu kali saja. Tuan tak akan ketemu wanita seperti itu lagi, Tuan George, bahkan kalau Tuan hidup seratus tahun (Hal. 145; Nasihat Tom kepada George, anak dari keluarga Shelby)

Dari sini cerita mulai bercabang, terkadang Stowe membawa kita mengikuti perjalanan Tom diantara para budak yang akan dijual, kemudian mengajak kita melihat perjuangan Eliza dalam pelariannya, sementara Tuan Haley, sang penjual budak yang sangat marah karena kehilangan Harry, anak Eliza,  mengarahkan beberapa orang pemburu budak untuk memburu mereka tanpa ampun.

Paman Tom & Evangeline. Perjalanan paman Tom mempertemukannya dengan seorang nona kecil bernama Evangeline. Setiap orang yang mengenal Eva kecil ini akan jatuh cinta kepadanya, demikian juga dengan paman Tom. Ada sesuatu dalam diri anak itu yang memancar keluar dan mempengaruhi orang-orang disekitarnya. Eva pun melihat sesuatu dalam diri paman Tom yang membuatnya menyukai lelaki tua itu, sehingga ia meminta ayahnya agar membeli Tom. Nasib baik berpihak kepada Tom, karena ia bertemu dengan majikan yang memperlakukan budak dengan sangat baik. Namun, apakah nasib baik ini akan terus bersamanya?

George Harris, Eliza & Harry. George Harris adalah seorang budak yang dimiliki oleh Tuah Harris. Karena kecakapannya dalam melakukan segala hal, ia diminta untuk bekerja di sebuah pabrik. Tidak membutuhkan waktu lama untuk menunjukkan bakatnya, sehingga semua orang menyukainya. Kondisi George yang semakin baik ini tidak menyenangkan untuk Tuan Harris, sehingga ia memaksa George untuk kembali melakukan pekerjaan kasar siang dan malam, sehingga George bahkan tidak punya waktu untuk belajar dan beristirahat. Ia benar-benar diperlakukan seperti barang bergerak yang tidak berperasaan. George yang sudah menikah dengan Eliza dan memiliki anak Harry pun dipaksa untuk melupakan keluarganya. Hal ini membuat George merasa tidak adil dan semakin menginginkan kemerdekaan. Namun hal itu tidak mudah untuk diwujudkan, perjalanan yang harus ditempuhnya sangat panjang, ia harus berjuang untuk dapat bersatu kembali dengan keluarganya. Apakah ia berhasil? 

Bagi ayah-ayah kalian, kemerdekaan merupakan hak suatu bangsa untuk menjadi bangsa. Baginya, kemerdekaan merupakan hak seorang manusia untuk menjadi manusia dan bukan benda yang tidak menyenangkan (Hal 531)

Sejarah kelam perbudakan di America telah bermula sejak tahun 1619, saat budak Afrika pertama tiba di Virginia. Ketika Fugitive Slave Law disahkan pada tahun 1850, berbagai kontroversi mulai bermunculan di masyarakat amerika, khususnya antara negara bagian selatan dan utara. Jika anda mencari sejarah perbudakan di Amerika, maka kemunculan novel ini tercatat pada tahun 1852 dan memberikan pengaruh yang sangat luar biasa pada masyarakat yang telah lama sentimen terhadap perbudakan, juga menimbulkan banyak kritik dari wilayah Amerika Selatan. Novel ini bahkan disebut sebagai peletak dasar munculnya perang saudara. 

Siapapun yang berhati lembut, tentu tidak akan pernah tahan hidup di masa-masa kelam perbudakan itu. Saya tidak bisa memahami cara berpikir orang-orang amerika masa itu, apalagi mereka yang hidup tanpa kepedulian. Mereka bahkan menganggap para budak tidak memiliki perasaan. Mereka memisahkan saudara bersaudara, seorang anak dari ibunya, istri dari suaminya. 

Yang paling berat dari perbudakan, menurut saya, adalah penindasan terhadap perasaan dan kasih sayang…dengan terpisahnya keluarga (Hal. 173-174)

Saya lantas berpikir, apa bedanya amerika masa itu dengan jerman dibawah kekuasaan Hitler. Konfliknya mungkin berbeda, namun sama-sama membawa penderitaan untuk kaum minoritas. Namun, diantara setiap mahluk berhati busuk itu, Stowe ingin menunjukkan bahwa ada orang-orang yang tetap hidup penuh cinta kasih, yang melihat hati para budak sama seperti hati seluruh manusia. Masih ada cinta ditengah kegelapan itu. Anda akan menemukannya ketika anda membaca bagian tentang Evangeline dan keluarganya. Cinta itu mungkin tidak bisa bertahan lama tinggal di dunia yang gelap, namun cinta yang tulus akan mampu mempengaruhi, bahkan membawa jiwa yang tersesat untuk menemukan jalan kembali kepada terang yang kekal. 

Setiap karakter dalam novel ini memiliki karakter yang unik. Setiap tokoh terkesan saling terpisah, namun sebuah benang merah akan nampak diakhir kisah. Lewat novel ini, saya belajar bahwa hati yang benar-benar tulus untuk mencintai, akan menyentuh banyak jiwa yang berselimutkan kegelapan. Mereka ini, orang-orang yang merasa tidak dicintai hanya membutuhkan sebuah ketulusan dan pengetahuan bahwa mereka diterima dan dicintai. Membaca kisah Uncle Tom’s Cabib, seperti menyaksikan sebuah proses panjang sebuah kehidupan yang didalamnya seseorang benar-benar akan bertumbuh, bergantung pada pilihan yang diambilnya. Orang yang keras hati pun bahkan bisa menjadi gila ketika menghadapi kasih dan cinta yang tulus.

Hei, engkau, yang pernah mendengar dari pewarta yang sama, bahwa Tuhan adalah cinta, dan bahwa Tuhan seperti api yang menghanguskan, tidakkah engkau tahu, bahwa bagi jiwa yang terbelenggu dalam dosa, maka cinta yang sempurna berubah menjadi siksaan yang paling menyeramkan, segel dan kutukan yang timbul dari keputusasaan yang paling menakutkan? (Hal 515-516)

Buku ini minim typo, penerjemah serambi berhasil menyajikan terjemahan percakapan yang sangat berbeda antara bahasa yang digunakan oleh budak dan majikan. Bravo untuk Istiani Prajoko yang berhasil menerjemahkan bagian-bagian percakapan dengan dialek kulit hitam yang saya rasa pasti sangat sulit namun tersaji sangat bagus. Cover yang digunakan pun sangat sederhana dan hangat. Terimakasih untuk penerbit serambi atas saluran novel yang sangat menyentuh ini. Saya meneteskan air mata sejak awal sampai menutup halaman terakhir. Wajar saja jika Langston Hughes menyebut buku ini sebagai "buku yang paling dikutuk dan dipuja pada masanya".

Wahai engkau yang merampas kemerdekaan seorang manusia, dengan kata-kata apa engkau dapat menjawab pertanyaan Tuhan? (Hal. 536)


-----------------------------------------------
Judul                   : Uncle Tom’s Cabin
Penulis                : Harriet Beecher Stowe
Penerbit              : Serambi
Terbit                 : Juli 2011
Tebal                  : 609
ISBN                    : 978-979-024-359-0
-----------------------------------------------

Friday, November 11, 2011

Review : Dataran Tortilla


seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam setiap kesukaran
(Amsal 17:17)

Kata orang persahabatan itu indah. Betapa indahnya hidupmu ketika engkau memiliki seorang sahabat seperti yang dikutip dalam amsal 17 ayat 17 diatas. Lalu bagaimana seorang sahabat yang menaruh kasih setiap waktu itu? Bagaimana sahabat yang menjadi saudara dalam setiap kesukaran? Saya percaya anda akan menemukan salah satu contohnya ketika membaca karya John Steinbeck yang satu ini. 

Dataran Tortilla adalah sebuah dataran tinggi diatas Kota Monterey yang terletak di wilayah California. Di dataran Tortilla ini, hiduplah kaum paisanos – rakyat jelata yang berdarah campuran Spanyol, Indian, Meksiko dan Kaukasia. Diantara rakyat jelata itu, hiduplah tokoh yang diciptakan oleh John Steinbeck ini, ia bernama Danny. Sekembalinya dari aktivitas ketentaraannya pasca perang, Danny mendapat warisan rumah dari kakeknya yang baru saja meninggal. Sebelum berangkat sebagai tentara, Danny hidup dijalanan, terkadang mendekam di penjara beberapa malam karena melakukan kejahatan ringan di lingkungannya. Namun sesekali, mendekam di penjara menjadi jalan keluar baginya untuk menghadapi rasa lapar atau supaya ia bisa tidur tidak beratapkan langit. Ketika Danny mengetahui bahwa ia memiliki rumah, ia menjadi bangga akan dirinya dan bertekad untuk hidup dengan baik dan menjaga martabat barunya. Pada masa itu, memiliki sebuah rumah menjadikan martabat seseorang lebih tinggi. penghargaan terhadap martabat seseorang diukur dari apa yang dimilikinya. Sepertinya dunia sekarang pun tidak lebih baik dari lingkungan Danny pada masa itu dalam hal penilaian ini. 

Membaca Dataran Tortilla ini, seperti menyaksikan kehidupan Danny dan teman-temannya yang perlahan-lahan berubah menjadi sahabat-sahabat terbaiknya. Mereka saling menyayangi walaupun cara yang ditunjukan membuat saya merasa tidak masuk akal, bahkan terkadang licik. Salah satu contohnya ketika Danny ingin menghadiakan sekotak gula-gula kepada Nyonya Morales, Pilon dan kawan-kawannya tergerak untuk membantu Danny mengumpulkan uang untuk membeli gula-gula itu, namun ketika uang sudah ditangan, Pilon dan Pablo mulai berpikir : “Gula-gula tak baik untuk kesehatan, hal itu bisa menyebabkan sakit gigi. Jika kawan kita Danny membeli gula-gula untuk Nyonya Morales, pasti ia pun akan mencicipinya dan Danny akan mengalami sakit gigi juga”.Karena pemikiran itu sehingga uang untuk membeli gula-gula justru beralih ke kedai Torelli tempat mereka membeli anggur. Mereka ingin membeli anggur, namun terus berupaya menyusun pemikiran seolah-olah mereka melakukannya karena menyayangi Danny. Namun, John Steinbeck sangat unik merangkai cara berpikir Pilon. Seperti pemikiran seorang anak kecil yang egois namun juga polos. Cara mereka berpikir membuat saya tertawa bahkan ditengah keramaian karena geli dengan kepolosan yang tidak masuk akal itu. Namun begitulah cara mereka menyayangi Danny. 

Banyak hal lucu dan menarik dalam karya Steinbeck ini. Buku ini terbagi dalam beberapa bab yang berisi cerita pendek tentang Danny dan sahabat-sahabatnya. Bahasa yang digunakan dalam terjemahan Pustaka Jaya ini sangat baku dan terkesan kaku. Namun apakah itu cara penggambaran yang tepat untuk novel yang pertama kali terbit pada tahun 1935 ini? Saya tidak tahu pasti. 

Ada sebuah kutipan yang berbunyi “sahabat sejati adalah orang yang mengetahui hal yang paling buruk tentang dirimu namun tetap mencintai engkau sebagaimana adanya”. Kutipan itu cocok sekali untuk Danny dan sahabat-sahabatnya. Saya belajar cara bersahabat dari Danny, Pilo, Pablo, Jesu Maria, Joe Portugis dan Bajak Laut. Meskipun cara mereka menurut saya aneh, namun mereka memiliki hati yang tulus dalam mengasihi. Lihatlah kepada ketulusan mereka dan bukan cara yang mereka gunakan, maka anda pasti akan menemukan contoh sahabat-sahabat sejati.

Penggambaran John Steinbeck terhadap paisanos ini mendapat respon yang tidak diduganya. Kemurahan hati orang-orang paisanos yang digambarkannya tidak dapat diterima, mereka tetap dicap sebagai gelandangan belaka, sehingga dalam sebuah kata pengantar edisi 1937 Perpustakaan modern, Steinbeck menulis,
it did not occur to me that paisanos were curious or quaint, dispossessed or underdoggish. They are people whom I know and like, people who merge successfully with their habitat...good people of laughter and kindness, of honest lusts and direct eyes. If I have done them harm by telling a few of their stories I am sorry. It will never happen again.
Buku ini saya rekomendasikan untuk anda yang menyukai cerita sederhana dan menghibur. Karena anda pasti akan tertawa membaca kisah kocak Danny dan sahabat-sahabatnya di Dataran Tortilla.

--------------------------------------------
Judul      : Dataran Tortilla
Penulis    : John Steinbeck
Penerbit : Pustaka Jaya
Terbit    : Februari 2009 (Cetakan II)
Tebal     : 265
ISBN       : 978-979-419-352-5
---------------------------------------------

Thursday, November 10, 2011

Surga Buku


Apa yang terbayang ketika kata “surga buku” terlintas dipikiranmu kawan? Beberapa teman menggambarkan “surga buku” sebagai sebuah tempat yang nyaman dan dikelilingi oleh buku apa saja yang kita inginkan. Saya pun ingin demikian. Namun, jika saya memetakan kata “surga buku” inilah yang terbayang :

 
Ketika saya membaca dan tenggelam kedalam sebuah kisah, melihat dari mata tokoh didalamnya, merasakan dengan hati mereka, kemudian menahan diri untuk tidak bertindak semau saya karena saya bukanlah tokoh yang sebenarnya. Ketika kisah itu meresap kedalam pikiran dan hati saya, sehingga ketika setahun kemudian seseorang bertanya kepada saya tentang buku itu, saya dengan mudah membagi kisah itu dari perpustakaan memori saya yang didalamnya kisah itu telah menciptakan ruang untuk ditemukan kembali. Itulah surga yang saya maksud. Bukan tentang tempat atau bentuk, namun tentang sebuah perasaan yang berbeda ketika saya sedang dan akhirnya selesai membaca sebuah buku. Ketika saya menutup halaman terakhirnya, saya bukan lagi saya yang kemarin, saya telah menjadi saya yang hari ini karena sebuah ruang telah bertambah dalam memori saya dan saya tidak akan sama lagi. Terkadang, ketika saya sedang tenggelam dalam sebuah buku dan ada orang lain yang mau mengganggu saya, teman-teman terdekat saya akan berkata “jangan diganggu, dia sedang berada didalam surganya sendiri, hal lain tidak akan mampu mengusiknya”. Bahkan teman-teman saya memahami surga yang terbentuk itu.

Mari temukan “surgabukumu”. Bersahabatlah dengan setiap tokoh, tempat, dan suasana dalam sebuah buku yang sedang kamu baca, niscaya kamu akan menemukan sebuah surga bahkan ditengah keramaian kota seperti Jakarta.

a crowded train with a man and woman seated reading their book. They created their own heaven.

Tulisan ini dibuat untuk meramaikan hari ulang tahun blog buku SurgaBukuku yang pertama. Selamat ulang tahun surgabuku, semoga tetap menginspirasi ^^ btw..mel..mau paket B dong *merapal mantra supaya dapat*

Thursday, October 27, 2011

buku memberikan ide ngeblog


Jika mendengar kata “ngeblog” apa yang akan terlintas dalam benak anda? 

Sampai dengan tahun 2010, ketika seseorang menyebutkan kata “ngeblog”, hal yang terlintas dalam pikiran saya, curhatan panjang ala diary yang menggunakan media internet, album foto milik para photographer yang ingin dipublikasikan, catatan perjalanan seseorang yang suka traveling atau tutorial teknis mengenai dunia komputerisasi. Dengan hanya memiliki pemahaman itu serta pengalaman yang sangat minim, maka niat untuk ikut “ngeblog” pun datang dan pergi terbawa angin. 

Suka membaca? Definitly!!!

Entah darimana datangnya kegemaran membaca itu. Ketika saya membaca,  a tree grows in Brooklyn karya Betty Smith, saya tahu tokoh Francie mendapatkan kebiasaan membacanya dari ibunya yang telah membiasakannya sejak ia belum tahu apa-apa. Bagaimana dengan saya, dari mana kegemaran membaca itu muncul? Sampai sekarang pun saya tidak punya jawabannya.

Setelah membaca, saya sering sharing isi buku ke beberapa teman. Ada yang terlihat bosan, bahkan ngantuk mendengarkan cerita saya, namun ada juga beberapa yang tertarik (walau jumlahnya sangat sedikit). Lalu diakhir tahun 2010, ketika saya sedang browsing mencari sebuah buku, oleh paman google saya diarahkan ke sebuah situs yang bernama goodreads. 

Betapa bersyukurnya saya ketika menemukan sebuah jejaring sosial, kumpulan orang-orang yang suka dengan buku. Mereka bahkan membuat review atau resensi buku-buku yang telah mereka baca. Ada yang mengomentari, ada yang memberikan pujian dengan mengklik “like”. Berkenalan dengan goodreads membuat saya semakin kaya informasi buku dan juga mengetahui bahwa indonesia cukup tertinggal dari segi penerbitan buku-buku berkualitas. Sebut saja karya Harper Lee – To kill a Mocking Bird yang baru diterbitkan sekitar tahun 2009 atau 2010, sementara terbitan pertamanya sudah ada sejak 1960. Namun lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan?

Belum lama bergabung dengan Goodreads Indonesia (GRI), saya sudah berkenalan dengan banyak teman-teman baru. Dari GRI berlanjut ke Facebook dan Twitter. Awalnya saya hanya ikut mendengarkan kicauan beberapa teman-teman pecinta buku di twitter, lalu saya mulai join dalam percakapan mereka, dan berkembang menjadi berburu buntelan buku dari para penerbit. Betapa senangnya ketika buntelan pertama saya (Hansel & Gretel) diantarkan oleh sang kurir. Mendapat buntelan pertama memacu saya memantau timeline twitter setiap hari, hanya untuk memastikan saya tidak melewatkan kuis-kuis yang diselenggarakan oleh para penerbit. Lalu saya mulai memperhatikan beberapa teman seperti om Hernandi Tanzil yang kerap kali menuliskan penilaiannya terhadap buku bacaanya. Sama seperti yang sering saya lakukan dengan menceritakan kepada teman saya, namun kali ini lewat cara dan media yang berbeda. Blog Buku.

Blog Buku?

Inilah dia blog buku saya, postingan pertama adalah resensi To Kill a Mocking Bird karya Harper Lee. Selesai menulis dan membaca tulisan itu, saya berpikir “kenapa resensi saya tidak sebagus yang lain ya?, mungkin perlu banyak latihan!!!”. Dan mulailah saya dengan sangat bersemangat terus membaca dan menulis. Blog ini berkembang dari satu tulisan, menjadi dua, dan terus berkembang. Pemikiran “kenapa resensi saya tidak sebagus yang lain?”, tidak lagi terlintas karena setiap orang punya ciri khas masing-masing, ketika saya mengikuti mereka, maka saya bukan lagi saya, keragaman itu tidak akan ada lagi, dan ketika keragaman itu mati, yang tersisa hanyalah kebosanan. 

Saling sharing tulisan tentang sebuah buku dan kegemaran serta kecintaan yang sama pada membaca dan menulis, membuat saya bergabung blog buku Indonesia. Resensi serempak perdana kami dimulai tanggal 31 mei 2011 dengan bacaan Wuthering Heights, karya penulis dan penyair asal inggris, Emily Jane Brontë. Memiliki blog buku seperti memiliki sebuah rumah dimana saya bisa menyalurkan kecintaan saya terhadap membaca dan menulis. Setiap tamu yang datang membuat saya gembira karena mereka datang dengan kemauan mereka sendiri, tanpa perlu saya paksa untuk mendengarkan cerita saya. Mereka datang karena mereka menghargai kegemaran saya, karena mereka juga punya kegemaran yang sama. Tujuan saya membuat blog buku adalah menyalurkan minat membaca dan menulis, dan sebagai bonusnya saya mendapatkan komunitas baru, dimana berada didalamnya saya merasa bangga, serta banyak teman-teman baru yang walaupun belum pernah bertemu, namun sudah seperti keluarga kecil ditengah lautan dunia maya. Suatu saat, saya berharap bisa bertemu dengan mereka semua dalam keluarga blog buku Indonesia.

Wednesday, October 19, 2011

Review : Hunger Games





Buku ini adalah pertemuan pertama saya dengan Suzanne Collins. Kurang lebih satu  setengah hari saya melahap buku ini, dan ketika sampai di halaman terakhir, saya langsung menuju gramedia untuk mencari kelanjutannya. Suzanne Collins membawa angin segar dalam deretan fantasi yang lagi bermunculan. Lantas apa daya tarik itu?

“Dua puluh empat peserta. Hanya satu pemenang yang selamat”

Katniss Everdeen tiba-tiba menjadi kepala keluarga ketika ayahnya meninggal dalam pekerjaannya sebagai penambang batu bara. Katniss hidup bersama ibu dan adik perempuanya, Prim, di Distrik 12.  Distrik 12 adalah bagian dari Negara Panem dibawah kekuasaan Capitol. Setiap distrik memiliki pekerjaan utama yang biasanya dilakukan oleh penduduknya. Katniss tidak begitu paham akan hal ini. Ia hanya berkonsentrasi pada kelanjutan hidup keluarganya. Distrik 12 dikelilingi oleh pagar yang seharusnya dialiri listrik, yang membatasi distrik itu dengan hutan belantara. Namun, menyebrangi pagar itu sudah menjadi kebiasaan Katniss ketika dia ingin pergi berburu, walaupun ia tahu, ketika dirinya tertangkap oleh penjaga perdamaian (seperti satpam yang ditempatkan oleh Capitol disetiap distrik) maka keluarganya akan mati kelaparan.

Setiap tahun, Capitol menyelanggarakan sebuah acara yang disebut Hunger Games. Peserta Hunger Games berasal dari perwakilan masing-masing distrik. Setiap distrik diwakilkan oleh sepasang remaja, mereka maju kedalam permainan yang telah diatur oleh Capitol. Pilihannya adalah membunuh atau dibunuh. Ketika nama Prim dibacakan sebagai perwakilan distrik 12, Katniss berlari keatas panggung dan mengajukan dirinya menggantikan adik kesayangannya. Katniss Everdeen dan Peeta Mellark adalah dua orang yang terpilih mewakili distrik 12 dalam Hunger Games ke-74. Entah bagaimana arena yang disiapkan oleh Capitol, namun Katniss tidak bisa mundur lagi, Ia harus maju, dan jika ingin pulang menemui keluarganya, ia harus membunuh 23 orang lainnya. Akankah dia sanggup? Bagaimana ia bisa membunuh Peeta, ketika didepan semua orang lelaki itu menyatakan cinta terpendamnya terhadap Katniss sejak mereka kanak-kanak?

Membaca buku ini, membuat saya tidak sabar untuk membalik setiap halamannya. Saya suka dengan karakter Katniss dan Peeta, walaupun penulis juga menggambarkan beberapa karakter lainnya tidak kalah menariknya. Satu hal yang terpikirkan ketika selesai membaca buku ini adalah kapan saya akan menikmatinya lewat layar lebar. Seperti cerita fantasy pada umumnya, lompatan cerita ini berjalan dengan sangat cepat. Yang sangat menarik dari buku ini adalah kemampuan Collins merangkai strategi bertahan hidup di arena Hunger Games, bagaimana komunikasi berjalan antara peserta dan mentornya yang mengawasinya dari tempat lain. Perlu diketahui, bahwa Hunger Games ini adalah pertarungan 24 peserta yang ditonton oleh setiap penduduk distrik lewat siaran tv, Capitol membuatnya demikian untuk memperingatkan setiap penduduk distrik agar menjauhi pemberontakan. Ada beberapa typo yang menggangu dalam buku ini. Terkadang ada bagian percakapan yang sepertinya diucapkan oleh orang lain, namun disebutkan terucap dari orang lainnya, sehingga membuat saya harus membaca ulang beberapa bagian dan berusaha memahami konteks yang sebenarnya. Namun, itu bukan masalah yang membuat saya berhenti membaca, justru sebaliknya, saya berusaha memahami tujuan penyampaian penulis sehingga tidak melewatkan rahasia-rahasia yang terpendam didalamnya.

Menurut Collins, ide cerita ini muncul ketika ia sedang menonton acara dimana orang-orang berlomba dalam sebuah reality show, sementara di saluran lainnya, ia melihat rekaman dari perang irak. Percampuran keduanya serta lewat sang ayah yang pernah terlibat dalam perang di Vietnam, membantu Collins memahami rasanya kehilangan orang-orang yang dicintai dan memberinya ide cerita ini. Collins bahkan terinspirasi dari mitos Yunani tentang Theseus. Semuanya dirangkai menjadi kisah menegangkan yang membuat saya juga tidak sabar menanti kehadiran hasil adopsinya ke layar lebar yang rencananya akan dirilis pada bulan maret 2012.

Beberapa penghargaan yang diraih oleh Hunger Games antara lain, Best Book of the Year (2008), Notable Children’s book of 2008, Winner of Golden Duck Award in Young Adult Fiction Category (2009).


-------------------------------------------------
Judul     : Hunger Games
Penulis   : Suzanne Collins
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit    : Jakarta, Oktober 2009
Tebal     : 408 hal
ISBN       : 978-979-22-5075-6
-------------------------------------------------

Review : The Boy in the Striped Pyjamas




"He thought that all the boys and girls who lived there would be in different groups, playing tennis or football, skipping and drawing out squares for hopscotch on the ground... As it turned out, all the things he thought might be there - weren't."

Buku biru bersampul garis-garis ini menyuguhkan cerita sederhana dibawah situasi mencekam sekitar tahun 1940-1945 ketika kelompok yahudi dibantai dengan kejam oleh seseorang yang dikenal dengan sebutan “The Fury” (Istilah The Leader dalam bahasa Jerman). Peristiwa yang merampas jutaan nyawa ini tidak mudah dilupakan. Warga yahudi yang tersebar luas di dataran eropa teraniaya tanpa ampun, bahkan anak-anak dan wanita pun tidak ada artinya untuk pemimpin negeri Hitler itu. Begitu banyak kisah, kesaksian, ungkapan hati yang tercurah lewat berbagai karya yang menggambarkan betapa mengerikannya masa itu. Sebut saja Anne Frank, seorang gadis yahudi yang bersembunyi bersama keluarganya dan terus mengungkapkan isi hatinya lewat sebuah diary yang kemudian dipublikasikan dan bahkan menjadi bacaan wajib untuk sekolah-sekolah di Amerika. 

Lewat karya seorang penulis asal Irlandia, John Boyne, hadirlah sebuah kisah lain tentang dampak holocaust yang tidak hanya berimbas buruk bagi kaum yahudi, namun juga untuk masyarakat jerman saat itu. Ini adalah kisah tentang seorang anak sembilan tahun bernama Bruno yang hidup bersama keluarganya di Berlin pada masa perang dunia II. Ayah Bruno adalah salah satu orang kepercayaan pemimpin Negara itu. Suatu hari sang ayah  tiba-tiba dipindahkan ke sebuah tempat terpencil, dekat camp “Out-With” (Auschwitz). Dengan berat hati, Bruno mengikuti keinginan orang tuanya untuk pindah. Ditengah kesepiannya ditempat baru, jauh dari sahabat-sahabatnya, Bruno sering memperhatikan anak-anak berpiama garis-garis yang terlihat di kejauhan. Lahan tempat anak-anak itu berada tidak cukup jauh dari rumah barunya, namun dipisahkan oleh semacam kawat duri yang menjulang tinggi. Tempat itu terlihat sangat kering, dan setiap manusia dibalik kawat duri itu, orang dewasa maupun anak-anak terlihat nestapa, tanpa senyuman, sangat ketakutan dan bahkan ada yang meneteskan air mata.

Demi mengendalikan rasa bosan di rumah barunya, suatu hari, Bruno memutuskan untuk menjelajahi daerah baru itu. Bruno terus berjalan menyusuri tempat-tempat yang semakin tidak dikenalnya namun terus menarik rasa ingin tahunya. Sampailah  ia di balik jeruji dan menemukan seorang anak seusianya sedang duduk sendirian. Anak itu menggunakan piama garis-garis. Bermula dari sapaan biasa, menjadi perbincangan, dan akhirnya persahabatan. Setiap hari mereka berjanji saling bertemu walau hanya sebatas mengobrol. Dan tak terasa pun waktu berlalu dengan sangat cepat. 

Lantas apa konflik di dalam novel ini? Jika anda membaca sinopsi dibelakangan buku terbitan Gramedia ini, anda tidak akan menemukan satu petunjuk pun tentang kisah ini. Mengapa demikian? Saya setuju dengan tulisan di belakangan cover buku ini, jika saya bercerita lebih jauh lagi, maka saya akan merusak keseluruhan isi cerita ini.

Buku ini memang sederhana, tidak banyak hal yang bisa ditemukan dalam alur ceritanya. Namun buku ini dapat bermanfaat untuk para guru sebagai bahan diskusi sejarah. Dengan membaca buku ini, banyak pertanyaan yang mungkin muncul terkait dengan perang dunia II dan holocaust. Seandainya guru-guru di Indonesia (tepatnya guru-guru saya dulu) ikut menerapkan cara seperti itu dalam mengajarkan sejarah, pasti dulu saya akan sangat menyukai sejarah. Beberapa kritik bermunculan tentang ketidaktepatan historis dan kesederhanaan buku ini, namun sejujurnya buku ini mampu mengajarkan manusia tentang hal-hal seperti kekejaman, apatis, prasangka, diskriminasi, kekuasaan, kekejaman bahkan kesetiaan.

Dalam wawancaranya dengan David Fickling, editor dan penerbit buku ini, John Boyne menjelaskan bahwa buku ini menggambarkan “naïf dan kepuasan”, dua hal yang menurutnya adalah dua alasan utama holocaust terjadi. Buku ini pun telah diadopsi ke layar lebar dan disutradarai oleh Mark Herman pada tahun 2008.

I couldn't put it down. Through the eyes of a child it was innocent and oh, so chilling. I was hooked to the last page.
Dalla Galton
Woman's Weekly

A book that lingers in the mind for quite some time…A subtle, calculatedly simple and ultimately moving story
Irish Times

------------------------------------------------------
Judul     : The Boy in the Striped Pyjamas
Penulis   : John Boyne
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit    : Jakarta, Juli 2007
Tebal     : 240 hal
ISBN-10  : 979-22-2982-5
ISBN-13  : 978-979-22-2982-0
-------------------------------------------------------

Sunday, July 31, 2011

Review : City of Glass (The Mortal Instrumen #3)




 
Manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya seperti bunga api bergejolak tinggi – Job 5:7


Sebelum membaca resensi ini, saya menyarankan anda sudah membaca resensi atau bahkan buku pertama dan kedua dari serial Mortal Instrumen ini, karena jika anda belum membaca, maka beberapa hal dari resensi ini akan menjadi spoiler untuk buku pertama dan kedua. WARNING!!!!

Sejauh perjalanan saya bersama serial Morta Instrumen ini, saya telah jatuh cinta setengah mati kepada Jace. Dan ternyata bukan saya saja yang menyukai Jace. 

“Dear Edward dan Jacob, aku memuja kalian berdua. Tapi aku menghabiskan akhir pekanku dengan Jace, Maaf! Salam cinta, Stephenie.” – Stephenie Meyer, penulis Twilight.

Nah, benarkan bahkan Stephenie pun meninggalkan Edward dan Jacob untuk menghabiskan akhir pekan bersama Jace..hohohoho

Jika mengingat Jace, mau tidak mau saya pun harus mengingat Clare, adik kandung Jace yang sangat dicintainya dengan cara seorang pria mencintai wanita pujaannya. Ternyata mereka berdua telah menerima percobaan Valentine sejak masih di dalam kandungan Jocelyn. Jace menerima darah iblis dan Clary menerima suntikan darah malaikat. Hal itu menjelaskan kemampuan Clary menciptakan rune baru di dalam buku kedua seria Mortal Instrumen ini. Jace dan Clary adalah pemburu bayangan dengan kemampuan spesial. Di akhir kisah kedua, sekali lagi Clary berhasil menggagalkan rencana jahat Valentine, dengan menciptakan rune baru yang meledakan kapal yang ditumpangi Valentine. Namun kemampuan Clary ini disembunyikan dari pimpinan pemburu bayangan. Jace dan Luke takut Clary akan mendapat kesulitan jika Kunci mengetahui kemampuan yang dimilikinya.

Setelah menggagalkan rencana Valentine di buku kedua, semua pemburu bayangan yang terlibat dalam pertempuran itu diminta untuk kembali ke Idris dan melaksanakan pertanggungjawaban dihadapan kunci. Clary pun menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rencana kembali ke Idris itu, namun Jace sangat menentang rencana Clary untuk pergi ke Idris. Clary harus pergi ke Idris karena seorang wanita pemburu bayangan bernama Medeleine mengunjunginya dan menjelaskan cara membangunkan Jocelyn. Menurut Medeleine, Clary harus menemui Ragnor Fell, seorang warlock di Idris. Hanya Ragnor Fell yang mengetahui cara membangunkan Jocelyn dari kondisi koma.

Dengan menggunakan kemampuannya Clary membuka portal menuju Idris, tepatnya kota kaca Alicante. Bukan hanya Clary yang sampai di Alicante, Simon pun secara tidak sengaja terbawa sampai ke Alicante. Di buku kedua, Simon telah bertransformasi menjadi vampir. Namun Simon memiliki keuinikan, ia bisa berjalan dibawah sinar matahari. Kondisi Simon yang baru tidak membuat persahabatannya dengan Clary berubah. Ia tetap menjadi sahabat bagi Clary. Ia bahkan telah membebaskan Clary dari urusan kencan mereka dan kembali pada gagasan persahabatan.

Ketika Jace yang marah melihat Clary berada di Idris tidak mau membantunya, Clary justru mendapat bantuan dari seorang kenalan barunya, Sebastian Verlac, untuk menemui Ragnor Fell. Sayangnya, Ragnor Fell telah terbunuh ketika mereka tiba. Seseorang telah mengetahui niat kedatangan Clary. Di rumah Ragnor Fell, Clary justru bertemu dengan Magnus Bane yang tanpa diketahui oleh Sebastian memberi tahu Clary cara menemukan penawar bagi ibunya.

Kota kaca Alicante yang tadinya aman dalam lindungan mantra penangkal iblis, kini telah terancam kehancuran. Valentine mengincar instrumen ketiga, cermin mortal. Semua orang tahu cermin itu berada di Alicante, namun tidak ada yang tahu persis seperti apa bentuknya dan dimana lokasi tepatnya. Valentine menyerang Alicante dan mengakibatkan pertarungan antara iblis dan para pemburu bayangan. Sebelum mengakhiri semuanya, ia menawarkan pilihan kepada Kunci. Jika Kunci ingin kota Alicante dan para pemburu bayangan selamat, maka Kunci harus menyerahkan kepemimpinan kepada Valentine dan tunduk kepadanya. Valentine menentukan batas waktu kepada Kunci untuk mempertimbangkan tawarannya. Jika Kunci tidak setuju dengan ide kepemimpinan Valentine, maka ia akan melepaskan iblis untuk menyerang Alicante.

Dewan Kunci pemburu bayangan dilanda kebingungan yang luar biasa. Mereka tahu bahwa mereka akan kalah jika hanya mengandalkan kekuatan para pemburu bayangan semata. Namun Luke menampakkan diri kepada Kunci, dan menawarkan ide menarik. Luke berpikir jika Kunci mengijinkan pemburu bayangan bertarung berdampingan dengan para penghuni dunia bawah maka mereka pasti bisa menghadapi valentine. Namun tidak semudah itu menerapkan ide Luke, karena Valentine sendiri masih memiliki mata-mata di dalam dewan yang terus menghasut setiap orang agar menyetujui gagasan untuk tunduk kepada Valentine daripada mati diserang iblis.

Clary setuju dengan ide Luke dan ia menawarkan bantuan luar biasa dengan memperkenalkan kemampuannya kepada semua pemburu bayangan di Alicante. Beberapa memandangnya dengan kagum, namun beberapa yang lainnya menganggapnya bodoh. Sementara Clary berusaha meyakinkan Kunci, Jace mengejar Sebastian setelah tahu bahwa ia adalah mata-mata Valentine. Masing-masing mereka menghadapi pertempurannya masing-masing sebelum pertempuran sebenarnya terjadi setelah waktu tawaran yang diajukan oleh Valentine tiba.

Apakah Jace berhasil mengejar Sebastian? Lalu siapa Sebastian sebenarnya? Apa keputusan Kunci terhadap tawaran Valentine? Bagaimana Clary akan membantu dalam pertempuran sebenarnya? Serta tidak kalah serunya, Apakah Jace dan Clary berhasil memperjuangkan cinta mereka menjadi sesuatu yang lebih nyata?

Akhirnya saya mendapatkan jawaban-jawaban yang tertunda ketika membaca buku ini, namun entah mengapa masih saja ada pertanyaan-pertanyaan lain yang bermunculan dan tanpa jawaban. Rasanya gregetan menyaksikan kisah Jace dan Clary, namun juga memberikan perasaan hangat ketika menelusuri hubungan mereka berdua. Sementara Jocelyn yang akhirnya berhasil bangun dan menemui Clary mengungkapkan rahasia besar yang sekali lagi merubah kehidupan Clary dan memberikan cahaya terang baginya.

Tiga seri pertama dari serial Mortal Instrumen ini tidak hanya memberikan imajinasi yang mengagumkan, namun juga mengajarkan banyak nilai dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini memperlihatkan bahwa keluarga bukan hanya berasal dari hubungan darah, namun juga setiap orang yang menyayangimu adalah keluarga. Demikian juga dengan kekuatan cinta dan kepercayaan dari orang-orang yang kita sayangi. Kekuatan itu memampukan kita melakukan apapun di dunia ini tanpa rasa takut. Dan pada akhirnya setiap hati yang murni selalu akan menghasilkan buah perilaku yang lebih baik.

------------------------------------------------------
Judul : City of Glass (The Mortal Instrumen #3)
Penulis : Cassandra Clare
Penerbit : Ufuk
Terbit : November 2010
Tebal : 752
ISBN : 978-602-8801-47-8 
-----------------------------------------------