Monday, September 23, 2013

[Review] Inferno by Dan Brown


Title: Inferno
Author: Dan Brown
Publisher: Bentang Pustaka
Published: September 2013
Pages: 644p
ISBN: 978-602-788-854-8 

PLOT 

Tengah malam, Robert Langdon terbangun di rumah sakit dan syok saat mendapati dirinya ada di Florence, Italia. Padahal ingatan terakhirnya adalah berjalan pulang setelah memberi kuliah di Harvard. Belum sempat Langdon memahami keganjilan ini, dunianya meledak dalam kekacauan. Di depan mata, dokter yang merawatnya ditembak mati. Langdon berhasil lolos berkat Sienna Brooks, seorang dokter muda yang penuh rahasia.

Dalam pelarian, Langdon menyadari bahwa dia memiliki sebuah stempel kuno berisi kode rahasia ciptaan ilmuwan fanatic yang terobsesi pada kehancuran dunia berdasarkan mahakarya terhebat yang pernah ditulis-Infero karya Dante. Ciptaan genetis ilmuwan tersebut mengancam kelangsungan umat manusia, Langdon harus berpacu dengan waktu memecahkan teka-teki yang berkelindan dalam puisi-puisi gelap Dante Alighieri. Belum lagi, dia harus menghindari sepasukan tentara berseragam hitam yang bertekad menangkapnya. (diambil dari cover belakang terbitan Bentang Pustaka)


MY RANDOM THOUGHT 

Meramu karya seni dan referensi sejarah menjadi sebuah cerita fiksi menarik, Dan Brown, tidak diragukan lagi adalah maestronya. Hal pertama yang akan dijumpai setiap pembaca di halaman depan setiap buku (bahkan sebelum Epilog) adalah pernyataan bahwa “Semua karya seni, kesusastraan, dan referensi sejarah dalam novel ini nyata”. Ini adalah salah satu daya tarik yang membuatku tidak pernah melewatkan karya-karya Dan Brown. Membaca buku beliau seperti berjalan-berjalan melintasi Eropa atau benua lainnya dengan deskripsi detail karya seni, patung, bangunan sejarah, lukisan, lorong-lorong rahasia yang dibangun pada masa tertentu dalam sejarah ataupun literature yang tidak kalah menarik. Aku sudah membaca kelima buku Dan Brown lainnya (Angel & Demons, Da Vinci Code, Deception Point, Digital Fortress, The Lost Symbol) dan buku-buku itu seperti magnet yang membuatku sulit melepaskannya sampai lembar halaman terakhir. Sayangnya buku ini agak berbeda. Inferno memang diangkat dari sebuah mahakarya Dante Alighieri yang sangat menarik, penjelasan yang diberikan oleh Dan Brown mengenai karya beliau sungguh merupakan sebuah referensi yang akurat dalam membaca Inferno versi Dante yang konon sulit dipahami itu. Namun, konflik yang disuguhkan dalam buku ini rasanya kurang dikelola dengan baik. Seperti buku-buku Dan Brown lainnya, sang tokoh utama akan digiring untuk memecahkan serangkaian teka-teki agar dapat memecahkan sebuah kasus dengan bantuan seorang wanita muda yang memiliki keahlian khusus atau hubungan khusus dengan inti konflik. Tidak berbeda untuk buku ini, hanya saja, buku ini tidak mengandung magnet seperti buku-buku Dan Brown lainnya. Dari sinilah aku coba menganalisa mengapa Inferno tidak menjadi magnet untukku? Pertama, porsi penggambaran sejarah bangunan dan tokoh sejarah terlalu banyak dan sangat detail. Detailnya penjelasan itu pada akhirnya tidak menyokong pengambilan keputusan terhadap langkah Langdon selanjutnya. Jadi hanya seperti informasi tambahan yang perlu dikemukakan oleh Dan Brown. Detailnya penjelasan ini membuatku bosan dibeberapa tempat. Aku ingat ketika membaca Angel & Demons, setiap penjelasan Dan Brown akan kusimak baik-baik karena penjelasan itu adalah dasar dari langkah pergerakan sang tokoh utama. Hal ini mengantarku pada penyebab kedua. Penjelasan yang terlalu detail itu mengakibatkan konfliknya kehilangan daya tarik ditengah ketertarikan pembaca terhadap sejarah seni. 

Terlepas dari kedua hal yang menggangguku diatas, ide cerita yang diangkat oleh Dan Brown pada buku ini lagi-lagi adalah topik yang cukup unik untuk disimak. Mulai dari ditemukannya sebuah tabung biohazard yang biasanya digunakan untuk membawa virus atau biokimia lainnya, Dan Brown membawa pembaca untuk membayangkan La Mappa dell’Inferno atau Map of Hell karya Sandro Boticelli, seorang tokoh renaisans Italia. Dari sini teka-teki berlanjut, namun pembaca perlu jalan-jalan sebentar ke Palazzo Vecchio di Florence, tempat dimana lukisan kontroversial Vasari di pajang dan menjadi salah satu agen teka-teki dalam petualangan Langdon. Nah kan, membicarakan buku ini tanpa menjelaskan semua daya tarik seninya rasanya pincang, mungkin itulah yang dirasakan oleh Dan Brown sehingga porsi deskripsi seninya sangat banyak. Pembaca yang menyukai gambaran sejarah yang sangat detail tidak akan kecewa membaca buku ini. Apalagi seperti biasa, Dan Brown tidak hanya menyajikan kebudayaan sebuah Negara, kali ini ia menyuguhkan kebudayaan tiga Negara sekaligus.
La Mappa dell'Inferno karya Sandro Boticelli
Palazzo Vecchio di Florence, Italia
Hall of Five Hundred di Palazzo Vecchio, tempat lukisan Vasari dipajang

Inti dari buku ini sebenarnya berbicara tentang senjata biologi yang tidak asing lagi di telinga masyarakat dunia saat ini. Namun yang menjadi poin penting disini adalah betapa cerdiknya Dan Brown mengangkat overpopulasi sebagai pemicu konflik yang memisahkan pihak protagonis dan antagonis dalam buku ini. Overpopulasi? Adakah yang pernah memikirkan apa dampaknya pada sumber daya bumi? Nah, Dan Brown akan membuka mata pembaca untuk melihat masalah ini dari kacamata para ilmuwan World Health Organization. Tiga bintang untuk buku ini.

Buku ini telah diterjemahkan oleh Bentang Pustaka dengan terjemahan mudah dinikmati. Ukuran font yang pas untuk mata, hard cover dan kualitas kertas yang oke mungkin layak menjadi alasan buku ini dijual dengan harga yang cukup mahal 149k.

PS : Akibat membaca buku ini, Inferno karya Dante Alighieri masuk menjadi salah satu buku yang harus kubaca dan Florence, Italy baru saja kutambahkan dalam list tempat di Eropa yang ingin kukunjungi. Ada yang mau join? Baca or Travel?

40 comments:

  1. penasaran,wishlist ku juga nih Inferno.. Tapi tetep worth-to-be-collected kan ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah klo penggemar Dan Brown sih, buku ini termasuk collectible kok azia :D

      Delete
  2. Twistnya gmn es? Klo aku kena banget dikibulin hahahhahaha... aku awalnya ngira zobrist itu homo loh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya aku juga baca bagian itu 2x dan sama kayak kamu ngira si zobrist homo..gara2 FS-2080 itu loh..itulah yang salah dengan asumsi ya. Cuma aku gk tau gimana caranya bahas twist-nya itu direview tanpa menyebarkan spoiler :(

      Delete
    2. Iya.. parah banget, seolah2 klo si FS itu si feris (spolier alert)
      Soalnya dia berhubungan sama provos sih, jd kita langsung mikir kesana.
      Trus juga ga nyangka klo bioweapon nya zobrist ga sesadis yg aku bayangin, karena sepanjang cerita disuguhi cerita kematian hitam sih. Malah di akhir cerita, agak2 simpati ama dia.. apalagi sejujurnya sinkey sebenernya sependapat ttg overpopulasi, hanya dia menyangkal. Makanya di ujung cerita, langdon bilang klo penyangkalan adalah pandemi ygnmenakutkan

      Delete
    3. Iya bener..aku jg agak bersimpati sama zobrist diakhir setelah tahu ternyata dia gk sejahat yang kubayangkan sebelumnya.

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. baru aja terima bukunya, aq 'skip' reviewnya mbak, lihat sepintas (takut 'spoiler') jadi semangat bacanya weekend ini :D

    ReplyDelete
  5. aku udah kadung agak kecewa ama the lost symbol. Perlu dibaca nggak yah inferno

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh klo mastez udh kecewa sama Lost Symbol..hmm no comment deh utk Inferno. Soalnya klo aku lebih suka Lost Symbol ketimbang Inferno..tapi gak tau ya kalo mastez :D

      Delete
  6. senin sore beli Inferno. Sayangnya bukan buat aku jadi selasa pagi udah ada di tas pak pos....
    Aku baru baca The Da Vinci Code.... keren :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukunya Dan Brown emang keren-keren sih..Da Vinci Code sebenarnya jg keren, cuma karena aku udah nonton dulu baru baca..jadi gitu deh..udh gk surprise lagi :D

      Delete
  7. Arghhhh... Punya aja belum buku ini >.< Lah mbak sudah buat aja reviewnya u.u *envy kelas berat*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh ini juga judulnya minjem kok..ada temen yg udh order tp dianggurin..ya udah ku baca aja dulu :D

      Delete
  8. orderny kmana???? pngen nglengkapin koleksinya dan brown.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang udah banyak kok, gramedia online ada, bukabuku.com juga bisa tuh

      Delete
  9. wahh jadi semakin penasar pengen makan bukunya. keheheheehhe..
    selalu menarik bertualang bersama Robert Langdon.

    nice post :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup Dan Brown selalu menyediakan petualangan menarik :)

      Delete
  10. I'm really excited about this book. Dan Brown can always make you question everything :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup Alex..you right..Dan Brown makes us want to search about anything related to the fact that part of the story :)

      Delete
  11. Sudah membaca angel demon, da vinci code dan last symbol. Memang yang last symbol endingnya kurang greget menurutku. Hah endingnya gini doang pikirku waktu selesai membacanya. Masih mikir mau baca inferno nggak ya

    ReplyDelete
  12. agustus kemaren beli yg inggrisnya, tp sayng mo dibuk wkwkwk diantara semua buku Dan Brown termasuk yg deception point & digital fortress emang lost symbol yg paling 'enggak' bgt endingnya,..buat yg udah baca inferno,berapa nih ratingnya??? range 1 - 10...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rating utk Inferno sih 3 dari 5 lah..kalo suru bandingin sama angel & demos, tetep bagusan angel & demons..klo sama lost symbol kayaknya mending lost symbol deh seingatku hahahaha

      Delete
  13. mbak ngerasa ga sih kalo endingnya itu serasa belum selesai ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya aku juga ngerasa endingnya belum selesai,,
      menurutku seolah olah dan brown setuju dengan overpopulasi

      Delete
  14. Misi mau nanya.. Beli buku Dan Brown yg Deception Point, Digital Fortress dimana Ɣɑ̣̇? Kayaknya udh buku lama yaa jd udh jrang di semarang. Online ada gk Ɣɑ̣̇ kira"? Thx sist... Udh baca inferno kok cm 3 hr doang, pertama nya sih kok kayak woow tp endingnya malah gini.. Wkwk mudah"an aja ada novel yg mengisahkan ttg Robert Langdon yg lain... Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi...sorry ya baru balas...iya biasanya beli di tobuk online atau tobuk2 yang di facebook untuk buku-buku lama gitu

      Delete
  15. baru kenal dan brown nih,swru gk petualangannya? aq pernah baca novel dunia sophie,seruan mana sama yg itu.,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan Brown selalu seru sih...kalo bandingin sama Dunia Sophie beda jenis serunya...gak bisa dibedain

      Delete
  16. Nice review. Saya orang yg tertarik sama karya kang Dan Brown gara2 nonton filmnya, dan cukup menyayangkan kenapa saya belum baca bukunya sebelum nonton filmnya hehe. Sepertinya seru2 buku Da Vinci Code dan Angel & Demon nya :"" Btw buku The Lost Symbol belum ada versi Indonesianya ya? Thx :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo..semua novel Dan Brown sudah ada terjemahan bahasa Indonesianya, termasuk The Lost Symbol :)

      Delete
    2. Hoo udah ada ya. Mungkin termasuk buku lama kah? Saya belum pernah ketemu versi Indonesianya di kota saya :"" Anw thx for the info *happy*

      Delete
  17. Masih menunggu karya Dan Brown fi masa mendatang se-apik The Da Vinci Code

    ReplyDelete
    Replies
    1. so far karya Dan Brown yang paling apik menurutku Angel n Demons, bukan The Da Vinci Code (imo yaa hehehe)

      Delete
  18. Setelah lama menanti akhirnya film inferno release, tapi mengecewakan :""" endingnya jadi beda, bener ga...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmmm..filmnya sama aja kayak bukunya, kurang greget. Over explanation ttg detil sejarah di buku untungnya tidak keluar di film, ya gk mungkin juga sih mengingat waktu yang terbatas :D

      Delete
  19. Numpang komen yak, aku sengaja baca bukunya dulu neh setelah tau inferno mau rilis filmnya, agak kecewa dengan ending filmnya, hanya saja aku mikir oh ya peminat film biasanya lebih banyak dibanding buku jadi misal diketahui bahwa virusnya adalah untuk kemandulan abadi umat manusia kayaknya akan menginspirasi entah siapa yang didunia ini memiliki pemikiran yang sama dengan zobrist, hahahaha lebay ya aku, tapi untuk pemuja pemulanya dan brown, film ini lumayanlah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haii..thank you udh mampir dan share your thought. Buku ini memang yang paling kurang greget sih menurutku, jadi waktu nonton film juga gak expect banyak hal dan memang ternyata benar. Dan yes, ide masalah over populasi dan solusi ala zobrits memang bisa memicu munculnya org2 aneh yg coba make it happen dan itu serem...semoga saja tidak begitu :)

      Delete
  20. Buku ini mengandung unsur2 kristen gitu gak?

    ReplyDelete