Thursday, September 26, 2013

[Review] Daddy Long-Legs by Jean Webster


Title: Daddy Long-legs
Author: Jean Webster
Publisher: Atria
Published: November 2009
Pages: 235p
ISBN: 978-979-14118-37

Akhirnya aku mendapat kesempatan menikmati tulisan Jean Webster setelah mencari hampir satu tahun. Sebenarnya tidak bisa dikatakan benar-benar mencari, karena aku justru berharap bertemu tanpa sengaja dengan kisah Jerusha Abbot dan impian keciku menjadi kenyataan karena tahun ini, mba Maria menghadiahkan buku ini padaku di hari ulang tahunku. Terimakasih mba Maria. 

Kisah ini menceritakan seorang gadis yang tidak pernah memimpikan kehidupan lain selain panti asuhan John Grier yang telah menjadi rumahnya selama 18 tahun. Jerusha Abbot berpikir bahwa John Grier akan menjadi akhir hidupnya, namun suatu hari, salah satu dewan pengurus panti asuhan memberikannya sebuah masa depan baru untuk diimpikan. Sang pria dermawan yang tak ingin diketahui identitasnya bersedia mengirimkan Judy ke universitas tanpa biaya dengan tambahan uang saku setiap bulannya. Sebagai balasannya, Judy hanya diminta menuliskan surat setiap bulan kepada sang dermawan yang menggunakan nama samaran Mr. Smith. Judy harus menceritakan kegiatannya sehari-hari, pelajarannya dan apapun yang ingin disampaikannya. Tugas yang tidak sulit untuk Judy, ia bahkan hampir setiap hari menulis kepada orang tua asuh yang ia sebut Daddy Long-Legs itu.

Buku ini berisi semua surat-surat Judy. Semua suratnya sangat mudah dinikmati, tulus dan juga sangat menghibur. Ia menggambarkan dirinya dengan sangat teliti tanpa membuat semua surat itu terasa membosankan. Kadang-kadang aku merasa sedang membaca surat anak sekolah dasar saking polosnya Judy bercerita dalam suratnya. Dalam buku ini pun Jean Webster mengelola karakter Judy dengan baik. Berawal dari gadis yang tidak tahu apa-apa tentang dunia luar, Jean Webster menggambarkan karakter Judy yang polos, terkadang keras kepala, namun selalu dikontrol oleh hatinya yang baik. Jean Webster menghadirkan transformasi gadis panti menjadi salah satu mahasiswi paling berbakat. Hal ini adalah daya tarik buku ini. Sederhana namun mahal.

Ada bagian-bagian dari surat Judy yang membuat siapapun yang membaca merasa sedih, seperti saat ia mengungkapkan kebahagiannya memiliki gaun baru. Mungkin hal yang sederhana untuk teman-teman sekampusnya, namun memiliki gaun baru menjadi salah satu kebahagian Judy yang sejak kecil hanya memiliki satu baju abu kelabu bekas orang lain. Bukankah orang dewasa terkadang kehilangan kebahagian-kebahagiaan kecil? Melewati hal sulit perlu dirasakan setiap orang, supaya kita bisa bersyukur saat menikmati hal baik, sesederhana apapun itu.  Aku belajar sesuatu dari setiap surat Judy.

Anak-anak maupun orang dewasa, aku yakin akan menyukai buku ini. Sangat ringan dan menyentuh dan sekaligus menghibur dengan lelucon-lelucon kecil yang kocak. Terjemahan atria pun tidak jelek. Empat bintang kusematkan di topi terbaru Judy.

Bagian-bagian yang kusukai dan ingin kuingat terus dari buku ini, 
Kita membutuhkan karakter yang kuat bukan cuma untuk menghadapi masalah-masalah besar dalam hidup ini. Setiap orang bisa bertahan terhadap terpaan krisis dan hantaman tragedi dengan keberanian. Namun, untuk mampu menghadapi gangguan-gangguan kecil sehari-hari dengan gelak tawa – menurut saya hal itu benar-benar membutuhkan semangat baja (hal 63)”

Saya rasa kualitas paling penting yang perlu dimiliki oleh seseorang adalah imajinasi. Imajinasi membuat orang mampu menempatkan diri mereka di tempat orang lain. Imajinasi membuat mereka menjadi orang yang baik dan bisa bersimpati serta penuh pengertian. Hal seperti itu perlu ditanamkan pada anak-anak (hal 123)

 Baca yang satu ini bener-bener bikin kangen kampus dan suasana kos-kosan,

Kehidupan di dalam kampus sangatlah memuaskan; buku-buku, pelajaran, kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas membuat kita hidup secara mental; dan ketika pikiran kita lelah, kita tinggal pergi ke gedung olahraga atau lapangan atletik. Juga akan selalu ada teman-teman nan ramah yang memikirkan hal yang sama dengan yang kita pikirkan. Kami tidak melakukan apa-apa di malam hari, selain mengobrol, mengobrol dan mengobrol, setelah itu pergi tidur dengan perasaan ringan (hal 170)

“Yang terpenting bukanlah kenikmatan-kenikmatan berskala besar, melainkan bagaimana kita mampu mengeksploitasi yang kecil-kecil secara maksimal. Saya sudah menemukan rahasia hidup abadi. Daddy, dan rahasia tersebut adalah menjalani hidup yang ada sekarang ini. Jangan terus-menerus menyesali masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan; namun raihlah sebanyak mungkin dari yang bisa didapatkan pada saat ini (hal 170)

7 comments:

  1. ini ada kartunnya juga kan ya? Aku pernah nonton tapi gak tamat! Novelnya, kayaknya seru, tapi bahasanya kok gitu ya? jadi kurang yakin, hehe._.v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku malah gak tahu kalo ada kartunnya.
      Nah kalo bahasanya aku juga penasaran gimana bahasa inggrisnya, cuma mungkin karena ini terbitan atria jadi bahasanya disesuaikan gitu kali..tapi seru sih.

      Delete
  2. Assalamualaikum mbak..
    Mbak bisa bantu saya mencari bukunya 😊?
    Enggeh kartunnya ada, saya justru lebih tau dulu kartunnya daripada novelnya ☺

    ReplyDelete
  3. Saya sangat berharap mbak membalasnya 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai..coba tinggalkan email, nanti saya email kalo dpt info bukunya ya.

      Delete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. This is a very good book! A little bit for girls but I found a lot of useful thought for me and I would like to recommend it http://onlineclassmentor.com/blog/9-circles-of-dan-browns-inferno

    ReplyDelete