Tuesday, November 15, 2011

Review : Uncle Tom's Cabin


Bersabarlah! Bersabarlah! Wahai kalian yang hatinya membengkak dan marah terhadap perbuataan seperti ini. Tidak satu degup penderitaan pun, tidak satu butir air mata pun dari mereka yang tertindas, dilupakan oleh Pria yang sengsara, Penguasa Kemuliaan. Dalam dadanya yang sabar dan murah hati, Dia menanggung penderitaan dunia. Tanggunglah, seperti dirinya, dengan sabar, dan berusaha dengan cinta; karena pasti demikian pula dengan TUhan, “saat penebusan akan datang” (Hal. 185)




Jadi, andalah wanita mungil yang menulis buku yang memicu perang besar ini?” adalah kata-kata yang diucapkan oleh presiden Amerika Serikat legendaries Abraham Lincoln kepada Harriet Beecher Stowe mengacu pada novel ini.  (dikutip dari sinopsis belakang cover serambi).

Lewat Uncle Tom’s Cabin, Stowe menyatakan kekecewaan dan dukanya yang paling dalam terhadap kondisi kehidupan Amerika sekitar tahun 1850an. Uncle Tom’s Cabin dirangkai dengan sangat teratur dan tajam oleh Stowe sehingga memicu kesadaran dan goncangan luar biasa pada masyarakat Amerika di masa itu. Tokoh sentral di dalam novel ini adalah Tom, seorang budak kulit hitam di rumah keluarga Shelby, seorang yang taat dan tetap setiap kepada imannya bahkan di tengah kondisi yang paling hina dan menderita. Ia menjadi lambang kerendahan hati dan kebaikan serta kesetiaan yang luar biasa.

Di dunia ini ada jiwa-jiwa yang mulia, yang dalam penderitaannya bangkit untuk membahagiakan orang lain; yang harapan duniawinya, terbaring di pusara diiringi uraian air mata, menjadi bibit yang menumbuhkan bunga-bunga kesembuhan dan pelipur lara bagi mereka yang kesepian dan menderita (Hal. 127)

Tuan Shelby adalah seorang tuan yang baik bagi para budaknya, namun hutang mendesaknya untuk memilih menjual beberapa budaknya atau harus kehilangan semuanya. Singkatnya Tom yang malang itu harus terpaksa dijual untuk menyelamatkan keluarga Shelby dan budak lain yang berlindung pada keluarga itu, termasuk keluarga Tom sendiri. Selain Tom dan keluarganya, ada juga Eliza, wanita muda yang cantik, cerdas dan berani yang hidup bersama mereka. Ketika mendengar bahwa anaknya, Harry, akan dijual bersama Tom, keberanian untuk menyelamatkan anaknya bangkit dan memicunya mengambil tindakan yang luar biasa berani dengan melarikan diri. Tom menunjukkan kerelaan hati dan kesabaran luar biasa ketika ia terpaksa dijual, sementara Eliza menunjukkan keberanian yang tidak kalah luar biasa untuk melindungi anak satu-satunya akan hampir direnggut darinya.

Begini, Tuan George, Tuhan kasih banyak kebaikan-kebaikan dua kali lipat lebih besar; tapi Dia hanya kasihkan kita ibu satu kali saja. Tuan tak akan ketemu wanita seperti itu lagi, Tuan George, bahkan kalau Tuan hidup seratus tahun (Hal. 145; Nasihat Tom kepada George, anak dari keluarga Shelby)

Dari sini cerita mulai bercabang, terkadang Stowe membawa kita mengikuti perjalanan Tom diantara para budak yang akan dijual, kemudian mengajak kita melihat perjuangan Eliza dalam pelariannya, sementara Tuan Haley, sang penjual budak yang sangat marah karena kehilangan Harry, anak Eliza,  mengarahkan beberapa orang pemburu budak untuk memburu mereka tanpa ampun.

Paman Tom & Evangeline. Perjalanan paman Tom mempertemukannya dengan seorang nona kecil bernama Evangeline. Setiap orang yang mengenal Eva kecil ini akan jatuh cinta kepadanya, demikian juga dengan paman Tom. Ada sesuatu dalam diri anak itu yang memancar keluar dan mempengaruhi orang-orang disekitarnya. Eva pun melihat sesuatu dalam diri paman Tom yang membuatnya menyukai lelaki tua itu, sehingga ia meminta ayahnya agar membeli Tom. Nasib baik berpihak kepada Tom, karena ia bertemu dengan majikan yang memperlakukan budak dengan sangat baik. Namun, apakah nasib baik ini akan terus bersamanya?

George Harris, Eliza & Harry. George Harris adalah seorang budak yang dimiliki oleh Tuah Harris. Karena kecakapannya dalam melakukan segala hal, ia diminta untuk bekerja di sebuah pabrik. Tidak membutuhkan waktu lama untuk menunjukkan bakatnya, sehingga semua orang menyukainya. Kondisi George yang semakin baik ini tidak menyenangkan untuk Tuan Harris, sehingga ia memaksa George untuk kembali melakukan pekerjaan kasar siang dan malam, sehingga George bahkan tidak punya waktu untuk belajar dan beristirahat. Ia benar-benar diperlakukan seperti barang bergerak yang tidak berperasaan. George yang sudah menikah dengan Eliza dan memiliki anak Harry pun dipaksa untuk melupakan keluarganya. Hal ini membuat George merasa tidak adil dan semakin menginginkan kemerdekaan. Namun hal itu tidak mudah untuk diwujudkan, perjalanan yang harus ditempuhnya sangat panjang, ia harus berjuang untuk dapat bersatu kembali dengan keluarganya. Apakah ia berhasil? 

Bagi ayah-ayah kalian, kemerdekaan merupakan hak suatu bangsa untuk menjadi bangsa. Baginya, kemerdekaan merupakan hak seorang manusia untuk menjadi manusia dan bukan benda yang tidak menyenangkan (Hal 531)

Sejarah kelam perbudakan di America telah bermula sejak tahun 1619, saat budak Afrika pertama tiba di Virginia. Ketika Fugitive Slave Law disahkan pada tahun 1850, berbagai kontroversi mulai bermunculan di masyarakat amerika, khususnya antara negara bagian selatan dan utara. Jika anda mencari sejarah perbudakan di Amerika, maka kemunculan novel ini tercatat pada tahun 1852 dan memberikan pengaruh yang sangat luar biasa pada masyarakat yang telah lama sentimen terhadap perbudakan, juga menimbulkan banyak kritik dari wilayah Amerika Selatan. Novel ini bahkan disebut sebagai peletak dasar munculnya perang saudara. 

Siapapun yang berhati lembut, tentu tidak akan pernah tahan hidup di masa-masa kelam perbudakan itu. Saya tidak bisa memahami cara berpikir orang-orang amerika masa itu, apalagi mereka yang hidup tanpa kepedulian. Mereka bahkan menganggap para budak tidak memiliki perasaan. Mereka memisahkan saudara bersaudara, seorang anak dari ibunya, istri dari suaminya. 

Yang paling berat dari perbudakan, menurut saya, adalah penindasan terhadap perasaan dan kasih sayang…dengan terpisahnya keluarga (Hal. 173-174)

Saya lantas berpikir, apa bedanya amerika masa itu dengan jerman dibawah kekuasaan Hitler. Konfliknya mungkin berbeda, namun sama-sama membawa penderitaan untuk kaum minoritas. Namun, diantara setiap mahluk berhati busuk itu, Stowe ingin menunjukkan bahwa ada orang-orang yang tetap hidup penuh cinta kasih, yang melihat hati para budak sama seperti hati seluruh manusia. Masih ada cinta ditengah kegelapan itu. Anda akan menemukannya ketika anda membaca bagian tentang Evangeline dan keluarganya. Cinta itu mungkin tidak bisa bertahan lama tinggal di dunia yang gelap, namun cinta yang tulus akan mampu mempengaruhi, bahkan membawa jiwa yang tersesat untuk menemukan jalan kembali kepada terang yang kekal. 

Setiap karakter dalam novel ini memiliki karakter yang unik. Setiap tokoh terkesan saling terpisah, namun sebuah benang merah akan nampak diakhir kisah. Lewat novel ini, saya belajar bahwa hati yang benar-benar tulus untuk mencintai, akan menyentuh banyak jiwa yang berselimutkan kegelapan. Mereka ini, orang-orang yang merasa tidak dicintai hanya membutuhkan sebuah ketulusan dan pengetahuan bahwa mereka diterima dan dicintai. Membaca kisah Uncle Tom’s Cabib, seperti menyaksikan sebuah proses panjang sebuah kehidupan yang didalamnya seseorang benar-benar akan bertumbuh, bergantung pada pilihan yang diambilnya. Orang yang keras hati pun bahkan bisa menjadi gila ketika menghadapi kasih dan cinta yang tulus.

Hei, engkau, yang pernah mendengar dari pewarta yang sama, bahwa Tuhan adalah cinta, dan bahwa Tuhan seperti api yang menghanguskan, tidakkah engkau tahu, bahwa bagi jiwa yang terbelenggu dalam dosa, maka cinta yang sempurna berubah menjadi siksaan yang paling menyeramkan, segel dan kutukan yang timbul dari keputusasaan yang paling menakutkan? (Hal 515-516)

Buku ini minim typo, penerjemah serambi berhasil menyajikan terjemahan percakapan yang sangat berbeda antara bahasa yang digunakan oleh budak dan majikan. Bravo untuk Istiani Prajoko yang berhasil menerjemahkan bagian-bagian percakapan dengan dialek kulit hitam yang saya rasa pasti sangat sulit namun tersaji sangat bagus. Cover yang digunakan pun sangat sederhana dan hangat. Terimakasih untuk penerbit serambi atas saluran novel yang sangat menyentuh ini. Saya meneteskan air mata sejak awal sampai menutup halaman terakhir. Wajar saja jika Langston Hughes menyebut buku ini sebagai "buku yang paling dikutuk dan dipuja pada masanya".

Wahai engkau yang merampas kemerdekaan seorang manusia, dengan kata-kata apa engkau dapat menjawab pertanyaan Tuhan? (Hal. 536)


-----------------------------------------------
Judul                   : Uncle Tom’s Cabin
Penulis                : Harriet Beecher Stowe
Penerbit              : Serambi
Terbit                 : Juli 2011
Tebal                  : 609
ISBN                    : 978-979-024-359-0
-----------------------------------------------

10 comments:

  1. wah, ceritanya khas novel klasik ya.. hehe berapa bintang nih?

    ReplyDelete
  2. iya makanya aku pgn buku ini, dl pas kuliah, ini masuk dalam daftar buku klasik yang mengubah sejarah. Aduudududuhhhh emang bagus kok, dan terjemahannya jg keren. Salut

    ReplyDelete
  3. @sulis : ini memang kisah based on seorang budak kulit hitam di masa itu, makanya setelah novel ini, si Stowe juga nerbitin a key for Uncle Tom's Cabin.

    @Maya : 5 bintang nih
    @dion : ayooo bacaaa...

    ReplyDelete
  4. wow.. latar belakang sejarahnya kuat ya?

    ReplyDelete
  5. @orybun : iya karena kisah ini memang terinspirasi dari kisah hidup seorang budak kulit hitam pada masa perbudakan itu

    ReplyDelete
  6. @penikmatBuku : iya beli aja..di jamin gk nyesel deh kecuali klo emang gk suka historical

    ReplyDelete
  7. makin penasaran baca review2 BBI-ers nihhh....wishlist!!! =D

    ReplyDelete
  8. mbak,,
    mnta saran dong beli novel ini online dimna, versi eng dan ina ya.
    soalny aku dah nyari tp ga nemu2. atau klu boleh novel ini aku beli? udh
    nyari dmna pun ga nemu.. kali aja boleh, aku tunggu infony. sms aja ya
    biar cpt 085729829855. mksh :)

    ReplyDelete