Sunday, July 31, 2011

Review : City of Glass (The Mortal Instrumen #3)




 
Manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya seperti bunga api bergejolak tinggi – Job 5:7


Sebelum membaca resensi ini, saya menyarankan anda sudah membaca resensi atau bahkan buku pertama dan kedua dari serial Mortal Instrumen ini, karena jika anda belum membaca, maka beberapa hal dari resensi ini akan menjadi spoiler untuk buku pertama dan kedua. WARNING!!!!

Sejauh perjalanan saya bersama serial Morta Instrumen ini, saya telah jatuh cinta setengah mati kepada Jace. Dan ternyata bukan saya saja yang menyukai Jace. 

“Dear Edward dan Jacob, aku memuja kalian berdua. Tapi aku menghabiskan akhir pekanku dengan Jace, Maaf! Salam cinta, Stephenie.” – Stephenie Meyer, penulis Twilight.

Nah, benarkan bahkan Stephenie pun meninggalkan Edward dan Jacob untuk menghabiskan akhir pekan bersama Jace..hohohoho

Jika mengingat Jace, mau tidak mau saya pun harus mengingat Clare, adik kandung Jace yang sangat dicintainya dengan cara seorang pria mencintai wanita pujaannya. Ternyata mereka berdua telah menerima percobaan Valentine sejak masih di dalam kandungan Jocelyn. Jace menerima darah iblis dan Clary menerima suntikan darah malaikat. Hal itu menjelaskan kemampuan Clary menciptakan rune baru di dalam buku kedua seria Mortal Instrumen ini. Jace dan Clary adalah pemburu bayangan dengan kemampuan spesial. Di akhir kisah kedua, sekali lagi Clary berhasil menggagalkan rencana jahat Valentine, dengan menciptakan rune baru yang meledakan kapal yang ditumpangi Valentine. Namun kemampuan Clary ini disembunyikan dari pimpinan pemburu bayangan. Jace dan Luke takut Clary akan mendapat kesulitan jika Kunci mengetahui kemampuan yang dimilikinya.

Setelah menggagalkan rencana Valentine di buku kedua, semua pemburu bayangan yang terlibat dalam pertempuran itu diminta untuk kembali ke Idris dan melaksanakan pertanggungjawaban dihadapan kunci. Clary pun menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rencana kembali ke Idris itu, namun Jace sangat menentang rencana Clary untuk pergi ke Idris. Clary harus pergi ke Idris karena seorang wanita pemburu bayangan bernama Medeleine mengunjunginya dan menjelaskan cara membangunkan Jocelyn. Menurut Medeleine, Clary harus menemui Ragnor Fell, seorang warlock di Idris. Hanya Ragnor Fell yang mengetahui cara membangunkan Jocelyn dari kondisi koma.

Dengan menggunakan kemampuannya Clary membuka portal menuju Idris, tepatnya kota kaca Alicante. Bukan hanya Clary yang sampai di Alicante, Simon pun secara tidak sengaja terbawa sampai ke Alicante. Di buku kedua, Simon telah bertransformasi menjadi vampir. Namun Simon memiliki keuinikan, ia bisa berjalan dibawah sinar matahari. Kondisi Simon yang baru tidak membuat persahabatannya dengan Clary berubah. Ia tetap menjadi sahabat bagi Clary. Ia bahkan telah membebaskan Clary dari urusan kencan mereka dan kembali pada gagasan persahabatan.

Ketika Jace yang marah melihat Clary berada di Idris tidak mau membantunya, Clary justru mendapat bantuan dari seorang kenalan barunya, Sebastian Verlac, untuk menemui Ragnor Fell. Sayangnya, Ragnor Fell telah terbunuh ketika mereka tiba. Seseorang telah mengetahui niat kedatangan Clary. Di rumah Ragnor Fell, Clary justru bertemu dengan Magnus Bane yang tanpa diketahui oleh Sebastian memberi tahu Clary cara menemukan penawar bagi ibunya.

Kota kaca Alicante yang tadinya aman dalam lindungan mantra penangkal iblis, kini telah terancam kehancuran. Valentine mengincar instrumen ketiga, cermin mortal. Semua orang tahu cermin itu berada di Alicante, namun tidak ada yang tahu persis seperti apa bentuknya dan dimana lokasi tepatnya. Valentine menyerang Alicante dan mengakibatkan pertarungan antara iblis dan para pemburu bayangan. Sebelum mengakhiri semuanya, ia menawarkan pilihan kepada Kunci. Jika Kunci ingin kota Alicante dan para pemburu bayangan selamat, maka Kunci harus menyerahkan kepemimpinan kepada Valentine dan tunduk kepadanya. Valentine menentukan batas waktu kepada Kunci untuk mempertimbangkan tawarannya. Jika Kunci tidak setuju dengan ide kepemimpinan Valentine, maka ia akan melepaskan iblis untuk menyerang Alicante.

Dewan Kunci pemburu bayangan dilanda kebingungan yang luar biasa. Mereka tahu bahwa mereka akan kalah jika hanya mengandalkan kekuatan para pemburu bayangan semata. Namun Luke menampakkan diri kepada Kunci, dan menawarkan ide menarik. Luke berpikir jika Kunci mengijinkan pemburu bayangan bertarung berdampingan dengan para penghuni dunia bawah maka mereka pasti bisa menghadapi valentine. Namun tidak semudah itu menerapkan ide Luke, karena Valentine sendiri masih memiliki mata-mata di dalam dewan yang terus menghasut setiap orang agar menyetujui gagasan untuk tunduk kepada Valentine daripada mati diserang iblis.

Clary setuju dengan ide Luke dan ia menawarkan bantuan luar biasa dengan memperkenalkan kemampuannya kepada semua pemburu bayangan di Alicante. Beberapa memandangnya dengan kagum, namun beberapa yang lainnya menganggapnya bodoh. Sementara Clary berusaha meyakinkan Kunci, Jace mengejar Sebastian setelah tahu bahwa ia adalah mata-mata Valentine. Masing-masing mereka menghadapi pertempurannya masing-masing sebelum pertempuran sebenarnya terjadi setelah waktu tawaran yang diajukan oleh Valentine tiba.

Apakah Jace berhasil mengejar Sebastian? Lalu siapa Sebastian sebenarnya? Apa keputusan Kunci terhadap tawaran Valentine? Bagaimana Clary akan membantu dalam pertempuran sebenarnya? Serta tidak kalah serunya, Apakah Jace dan Clary berhasil memperjuangkan cinta mereka menjadi sesuatu yang lebih nyata?

Akhirnya saya mendapatkan jawaban-jawaban yang tertunda ketika membaca buku ini, namun entah mengapa masih saja ada pertanyaan-pertanyaan lain yang bermunculan dan tanpa jawaban. Rasanya gregetan menyaksikan kisah Jace dan Clary, namun juga memberikan perasaan hangat ketika menelusuri hubungan mereka berdua. Sementara Jocelyn yang akhirnya berhasil bangun dan menemui Clary mengungkapkan rahasia besar yang sekali lagi merubah kehidupan Clary dan memberikan cahaya terang baginya.

Tiga seri pertama dari serial Mortal Instrumen ini tidak hanya memberikan imajinasi yang mengagumkan, namun juga mengajarkan banyak nilai dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini memperlihatkan bahwa keluarga bukan hanya berasal dari hubungan darah, namun juga setiap orang yang menyayangimu adalah keluarga. Demikian juga dengan kekuatan cinta dan kepercayaan dari orang-orang yang kita sayangi. Kekuatan itu memampukan kita melakukan apapun di dunia ini tanpa rasa takut. Dan pada akhirnya setiap hati yang murni selalu akan menghasilkan buah perilaku yang lebih baik.

------------------------------------------------------
Judul : City of Glass (The Mortal Instrumen #3)
Penulis : Cassandra Clare
Penerbit : Ufuk
Terbit : November 2010
Tebal : 752
ISBN : 978-602-8801-47-8 
-----------------------------------------------

4 comments:

  1. syukurlah Clary dan Jace ternyata bukan saudara kandung. walau saya juga lebih mendukung Clary-Simon sih, hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya tapi entah kenapa pas baca ulang buku ini (bulan ini) rasanya tidak lagi semenarik dulu :D

      Delete
  2. Aku bahagisa atas clary dan jace.. tp couple fav aku tetep alec sama magnus :D malec forever

    ReplyDelete
  3. Aku bahagisa atas clary dan jace.. tp couple fav aku tetep alec sama magnus :D malec forever

    ReplyDelete