Thursday, November 8, 2012

"Gone with the Wind" Read Along 2012


Gone with the Wind published by Gramedia Pustaka Utama


Well, my dear, take heart. Someday, I will kiss you and you will like it. But not now, so I beg you not to be too impatient ~ Rhett Butler

Classic Club menuntun saya mengenal salah satu karya sastra yang sangat kontroversial. Karya sastra yang ditulis oleh penulis asal Amerika, Margaret Mitchell. Wow…buku setebal seribu halaman yang cukup membuat saya cemas, akankah saya mampu menyelesaikannya? Namun setebal apapun sebuah buku, jika dirangkai dengan menarik, ribuan halaman pun tidak akan menjadi masalah, dan tanpa terasa saya sudah berada dilembar-lembar terakhir buku ini. Kisah ini mulai ditulis pada tahun 1926 dan akhirnya diterbitkan pertama kali pada tahun 1936. Novel ini bergenre romance yang berpusat pada kisah cinta antara Scarlett dan seorang pria asal Charleston bernama Rhett Butler. Walaupun ditulis pada awal abad ke-19, namun kisah ini dilatarbelakangi oleh perang saudara di Amerika pada tahun 1861-1865 serta masa-masa rekonstruksi paska perang. Hmmm….kisah yang melibatkan berbagai karakter, situasi, dan tentu saja emosi yang sangat beragam. Pembaca yang baik… once upon a time….

Hiduplah Scarlett O’Hara bersama kedua orang tuanya di Georgia, bagian selatan Amerika. Scarlett hidup di Tara, rumah dan tanah perkebunan orang tuanya. Ia adalah anak sulung dari pasangan Gerald O’Hara dan Ellen Robillard. Keluarga ini terbentuk dari dua budaya yang berbeda. Gerald adalah pria asal Irlandia yang berjuang sepanjang hidupnya untuk mendapatkan semua yang dimilikinya. Sedangkan Ellen terlahir dalam keluarga bangsawan Perancis. Oleh Ellen, Scarlett selalu dididik mengikuti gaya bangsawan seperti layaknya wanita pada masa itu yang harus terlihat lemah, tidak boleh menunjukkan kecerdasannya, dan selalu menjaga sikap.

Self-centered” sepertinya ungkapan yang tepat untuk menggambarkan karakter Scarlett. Ia tahu bahwa dirinya memiliki pesona yang menarik para pria, sehingga acap kali menggunakannya untuk kesenangannya sendiri, bahkan terkadang sangat berlebihan. Ia senang dikelilingi oleh banyak pria, walaupun itu berarti ia akan selalu mendapatkan cibiran dari setiap wanita disekitarnya. Walaupun selalu dikelilingi pria, Scarlett diam-diam menyimpan rasa cintanya kepada Ashley Wilkes. Ashley memiliki karakter yang sangat berbeda dengan semua pria yang selalu mengelilingi Scarlett.

Karena Ashley terlahir sebagai manusia yang menggunakan waktu luangnya untuk berpikir, bukan bertindak. Ia merajut mimpi-mimpi indah aneka warna yang sama sekali tak tersentuh dunia nyata. Ia hidup dalam dunia khayal yang lebih indah daripada Georgia, dan kembali ke dunia nyata dengan enggan ~ Hal 35

Suatu hari ia terkejut menerima undangan pertunangan Ashley dan Melanie Hamilton. Saat menghadiri pertunangan Ashley di Twelve Oaks, kediaman keluarga Wilkes, ia berusaha mengungkapkan perasaannya pada Ashley dengan harapan Ashley akan membatalkan pertunangannya dengan Melanie. Namun Ashley menolaknya dan membuat Scarlett sangat marah. Kemarahannya semakin menjadi ketika seorang tamu bernama Rhett Butler menggoda sikapnya itu.  Tanpa berpikir panjang, saat itu juga Scarlett lantas menerima lamaran Charles Hamilton dengan tujuan untuk membalas dendam pada Ashley. Scarlett dan Charles menikah sehari sebelum pernikahan Ashley dan tak lama kemudian Scarlett pun hamil. Pada saat yang sama pecahlah perang saudara di Amerika. Sebelas Negara Bagian budak di Selatan mengumumkan pemisahan dari Amerika Serikat dan membentuk Konfederasi. Ashley dan Charles berangkat mewakili Konfederasi dalam peperangan itu dan sayangnya Charles meninggal karena terserang disentri di kamp penampungan prajurit. Sungguh malang nasib Scarlett, diusia 16 tahun ia telah menjadi janda dengan seorang anak bernama Wade Hampton Hamilton. Status janda prajurit konfederasi seperti cangkang yang menyusahkan Scarlett karena ia harus mengenakan pakaian berkabung yang jauh dari mode, tidak bisa mengikuti pesta-pesta yang sangat disukainya, tidak bisa berdansa, dan tentu saja tidak ada pria yang akan mendekatinya lagi. Ketika ia menerima undangan dari Melanie untuk berkunjung ke Atlanta, ia pun langsung menerimanya dengan harapannya mencari suasana yang mampu mengembalikan semangat hidupnya.

Tidak butuh waktu lama bagi Scarlett untuk menyukai Atlanta, karena pusat Konfederasi berada di kota itu, banyak prajurit yang beristirahat disana, dan kota itu selalu ramai. Scarlett pun ikut membantu merawat para prajurit di rumah sakit. Masyarakat Atlanta menaruh simpati padanya sebagai seorang janda yang sedang berkabung walaupun Scarlett sama sekali tidak merasa sedih kehilangan Charles. Di kota ini pun Scarlett bertemu kembali dengan Rhett Butler, di sebuah pesta dansa, saat Scarlett sedang bertugas. Rhett memberikan uang sebesar $150 kepada penyelenggara pesta untuk bisa berdansa dengan Scarlett. Semua orang terkejut dengan permintaan Rhett karena Scarlett dianggap masih berkabung. Namun Scarlett bersedia untuk berdansa dengan dalih berkontribusi untuk Konfederasi. Scarlett pun kembali ke lantai dansa dan menikmati cara Rhett memperlakukannya. Sejak saat itu Scarlett mulai sering terlihat bersama Rhett dan semakin lama masyarakat Atlanta semakin sering mengunjingkannya, namun ia sama sekali tidak peduli. Satu-satunya orang yang masih terus mendukung dan menyayanginya adalah Melanie, meskipun tanpa sepengetahuan Melanie, Scarlett sangat membencinya. Namun disaat Melanie hamil dan membutuhkan bantuan untuk melahirkan, Scarlett lah yang menemani dan membantunya. Hal ini dilakukannya bukan karena ia menyayangi Melanie, namun karena ia telah berjanji kepada Ashley akan menjaga Melanie dan bayinya. Rhett yang terus mengunjunginya pun tidak menyurutkan cintanya kepada Ashley, walaupun terkadang ia mengharapkan Rhett terus ada menemaninya. Ia pun bingung dengan perasaannya kepada kedua pria itu. Meskipun Rhett mencintai Scarlett, namun ia pun tidak pernah mengakuinya dengan serius di depan Scarlet, semuanya itu karena sikap Scarlett.
You're so brutal to those who love you, Scarlett.
You take their love and hold it over their heads like a whip ~ Rhett Butler

Saat pasukan Yankee hampir membungihanguskan Atlanta, Scarlett membawa Wade, Melanie dan anaknya meninggalkan Atlanta, memasuki hutan, menempuh perjalanan panjang tanpa persediaan makanan menuju Tara. Ancaman maut kapan saja bisa menghampirinya namun ia mengerahkan semua kekuatannya dan menjadi tumpuan dalam perjalanan itu. Dan sejak saat itu Scarlett yang lama hilang sudah. Ia bertransformasi menjadi Scarlett yang baru. Ketika ia tiba di Tara, ibunya telah meninggal dan ayahnya telah menjadi pikun karena perasaan kehilangan yang sangat mendalam. Hanya ada sedikit makanan namun begitu banyak orang yang harus diberi makan. Sejak saat itu, Scarlett menjadi kepala rumah tanggal di Tara. Ia melukai tangannya dengan melakukan pekerjaan kasar, mengatur persediaan makanan, bahkan membunuh seorang tentara Yankee yang hampir merampoknya di rumahnya sendiri.

Kini ia memandang segala sesuatu dengan sudut pandang baru. 
Di suatu tempat, dalam perjalanan menuju Tara, ia telah membuang masa remajanya. Mala mini adalah malam terakhir ia menganggap dirinya anak kecil. Setelah itu, ia akan menjadi seorang wanita. Masa-masa remaja telah lewat ~ hal 460

Scarlett yang kekanak-kanakan tidak ada lagi, kini ia bertekad untuk memulihkan keadaannya, mempunyai banyak uang agar tidak pernah hidup miskin lagi, walaupun untuk itu ia harus menikah lagi dengan pria yang tidak dicintainya, pria yang jauh lebih tua, dan pria yang seharusnya tidak boleh dinikahinya. Karakter Scarlett berubah total. Seperti apa karakternya? Itulah pertanyaan paling penting yang perlu dijawab. Apakah ia bahagia dengan pernikahannya yang kedua? Siapa pria yang dinikahinya? Lalu bagaimana kelanjutan kisah cinta Scarlett dan Rhett atau adakah harapan ia akan bersatu dengan Ashley?  Lalu bagaimana dengan peperangan yang sedang berlangsung hebat antara pihak Konfederasi dan Yankee?

Gambaran budak dalam karya Mitchell ini menjelaskan perbedaan yang sangat mencolok dari karya lain dengan latar belakang yang sama. Salah satunya adalah Uncle Tom’s Cabin, karya Harriet Beecher Stowe yang menjelaskan bahwa budak yang tinggal di daerah selatan diperlakukan dengan sangat buruk, bahkan dicambuk sampai mati. Namun Gone with the Wind menjelaskan suasana yang berbeda. Para budak terlihat bahagia bersama majikan mereka, bahkan beberapa dari mereka tetap tinggal meskipun telah dibebaskan. Karena itu karya Mitchell ini sering disebut sebagai Anti Tom Literature. Kedua buku inilah yang mengenalkan saya pada salah satu sejarah kelam di Amerika. Namun Gone with the Wind memperkaya saya dengan pengetahuan detail tentang peperangan antara Konfederasi dan Yankee. Memberitahukan saya perasaan kelaparan dan putus asa yang ditimbulkan oleh perang. Dan mengenalkan saya pada budaya yang mengungkung wanita pada masa itu. Novel ini banyak membicarakan tentang cinta. Namun cinta tidak semata-mata menjadi pusat perhatian saya. Ada banyak tema lain yang bisa dijadikan bahan diskusi seperti budaya,  perjuangan hidup, peperangan, kekayaan dan kemiskinan, ironi, kelas masyarakat, pembatasan peran pria dan wanita serta keserakahan. Begitu banyak tema yang akan membuat tulisan ini menjadi sangat panjang jika membahasnya satu persatu. Karena itu silahkan anda membacanya. Membacalah terus meskipun anda mulai membenci Scarlett, karena ada Rhett, Mammy, Ellen, Paman Peter, dan karakter-karakternya lain yang akan membuat anda jatuh cinta. Rhett dan Melanie adalah dua karakter yang saya sukai dalam cerita ini. Singkatnya, memiliki pacar seperti Rhett sama menyenangkannya dengan memiliki sahabat seperti Melanie.

Margaret Munnerlyn Mitchell adalah penulis asal Amerika yang melewati masa kecil di daerah bergaya Victorian, yang tidak jauh dari kawasan Darktown, tempat yang banyak dihuni oleh masyarakat African American di Atlanta. Gone with the Wind menjadi satu-satunya karya Mitchell yang pernah diterbitkan semasa hidupnya dan sekaligus membawanya menerima Pulitzer Prize pada tahun 1937. Karya ini pun telah diangkat ke layar lebar pada tahun 1939. Event read along dan tulisan resensi ini dibuat untuk mengenang hari kelahiran Margareth Mitchell yang tepat pada tanggal 8 November 1900. Saya memberikan 4 bintang untuk karya klasik asal Amerika ini.

--------------------------------------------
Judul : Gone with the Wind
Penulis : Margaret Mitchell
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Juni 2009 (cetakan kedua)
Tebal : 1124 hal
ISBN : 978-979-22-0032-4
--------------------------------------------

29 comments:

  1. Buku dan review yg menarik. Aku baca buku ini pas edisi Indonesianya pertama kali terbit, kl ga salah dibagi 4 buku.

    Btw, ini bukan satu2nya karya margaret, tapi memang satu2nya yg terbit semasa hidupnya. Pada umur 15 tahun ia menulis novela berjudul Lost Laysen, yg baru terbit tahun 1996. Gramedia pernah menerbitkan buku ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wow..thanks for informasinya yaa..segera kuupdate deh tulisannya untuk menambahkan informasi ttg karya Mitchell :D

      Delete
  2. aku sebel banget sama Scarlett, pengen jambak dia >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha sama lis..aku juga sebel bgt sama self centered nya Scarlett itu..cuma untung masih ada melanie dan yg lainnya :D

      Delete
  3. ternyata emang ga ada yang suka ama Scarlett yak... XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Scarlett tuh gak pnya kriteria apapun dalam dirinya yang bisa bikin orang bisa suka..hahaha hmmm...except Rhett maybe :D

      Delete
  4. Paling sebel saat Mitchell berpanjang lebar ngebahas fashion, berasa kayak baca Chicklit....

    Yang paling aku suka di sini hanya Melanie dan Will Benteen, cuma mereka yang 'normal' di kisah ini. *berandai-andai mereka menikah*

    ReplyDelete
    Replies
    1. @fanda : klo menurutku malah gak seru klo melanie dan benteen menikah :D

      Delete
  5. Rhett itu sosok yg ga mau menyenangkan orang lain ya, semuanya diperhitungkan.. kadang aku bingung apakah harus benci atau kagum :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. klo menurutku, dia sosok yang sangat memahami karakter setiap orang..sehingga dia dengan mudah mempermainkan emosi setiap orang. Kepada orang2 yang mudah marah jika konfederasi dilecehkan kadang dia bersikap melecehkan..tpi kepada melanie dia bersikap gentle..ke scarlett dia suka tapi menahan diri krna tau karakter scarlett..menurutku dia tipikal org yang bisa menjadi baik jika ingin baik..dan bisa jadi sangat menyebalkan klo dia pengen :D

      Delete
  6. Ahahaha ... review kilat ya mbak Esy, aq suka dengan kalimat ini : "Singkatnya, memiliki pacar seperti Rhett sama menyenangkannya dengan memiliki sahabat seperti Melanie." --- it's was true indeed, tanpa melihat gaya sarkastis Rhett :D mmm, berminat melanjutkan pada Scarlet by Alexandra Rilpley ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya jujur aja ini review kilat banget. iya aku suka Rhett dan Melanie :D

      Aku suka Rhett..dia bisa memilih utk menjadi sarkastik kalau berhadapan dengan org2 tertentu..tapi berhadapan dengan melanie, dia jadi sangat baik :D Dia sangat mengenali karakter tiap orang dan menyesuaikan sikapnya dengan mereka semua :D

      Delete
  7. Walau ngga begitu suka ma Scarlett,aku suka perubahan yang terjadi dari bab ke bab. Walau beneran kesal pas tahu dia tuh masih terobsesi ma Ashley dan akhirnya buat Rhett marah. Dan nah kan akhirnya tuh telat nyadarnya. Ughhh gemes.

    Beneran pengen ending yang beda. Sampai-sampai aku pengen baca Scarlett yang kupikir ditulis ma Margaret Mitchell juga. Tapi begitu tahu penulisnya beda, aku pikir udahlah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepertinya memang enaknya berakhir disitu aja ally..klo baca sequel scarlett rasanya kok jadi gk pas gitu soalnya penulisnya beda..

      Delete
  8. Ini karya yg luar biasa, bisa ngaduk2 emosi pembacanya lwt karakter scarlett dan rhet yg gak hitam-putih. Lbh ngebosenin justru klo tokohnya too good to be true, krn hidup itu jg gak hitam-putih. Perjuangan Scarlett ini jg mengilhami masyarakat Amerika utk tetep semangat berjuang menghadapi hidupnya krn saat itu adalah masa resesi ekonomi terburuk. Ohya, Lost Laysen luar biasa. Wajib baca, krn di buku itu jg ada biografi Mitchell yg mengungkap sisi lain ttg hidup, kepribadian dan siapa cinta sejatinya, jauh berbeda dgn yg disangka org selama ini. Sebuah cinta rahasia yg dia bawa sampe akhir hayatnya. Hmmm...

    ReplyDelete
  9. hi nitatrismaya thank you ya infonya..Lost Laysen nanti kucari deh :)

    ReplyDelete
  10. saya suka sekali cerita ini. Kisah ketika Amerika masih dalam zaman perbudakan serta kehidupan mewah para tuan tanah perkebunan kapas.
    Dan bagaimanapun novel ini memang menarik. Saya langsung jatuh cinta begitu membaca frasa pertama buku ini. "Scarlet O'Hara tidak cantik tapi kaum pria jarang menyadarinya"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yupp...coba baca Uncle Tom's Cabin juga..latar ceritanya sama hanya saja sudut pandangnya berbeda..kalo Gone With the Wind dilihat dari sudut pandang wilayah selatan...Uncle Tom's Cabin dilihat dari perspektif wilayah utara..so jdinya komplit deh kalo baca dua2nya :)

      Delete
  11. aku baca sekuelnya duluan, terus baru berburu yang Gone with the wind...'sangat mengagumkan'

    ReplyDelete
  12. Pernah nonton film nya jaman dulu sekitar thn 1995 ditayangin tengah malem di tvri, filmnya bagus dan berkesan banget. Abis itu jd penasaran sm novelnya. Thanks reviewnya.

    ReplyDelete
  13. Scarlett is me..halah..hehe..maaf kalau terdengar membosankan, tapi karakter scarlett bener2 inspiring saya banget untuk bisa survive, tangguh, di hidup, khususnya hidupku yang keras. Walau sedihnya engga bisa ketemu laki2 yang karakternya kaya Rhett. Eniwei, dari GWTW saya jadi paham banget mengapa penduduk Amerika khususnya bagian selatan karakternya begini..utara begini dst.. kemudian baca sequelnya, true indeed memang ditulis oleh penulis yg berbeda , tp kalo enggak salah, CMIIW masih cucunya Mitchel. Dalam sequelnya saya malah lebih tergila gila lagi dan endingnya membuat saya menutup buku tanpa sakit hati. Dilengkapi dengan film layar lebar plus serial TV nya, sempurnalah sudah kegilaan pada karakter scarlett

    ReplyDelete
  14. Novel terbaik yang pernah saya baca ... buat yang suka novel gone with the wind , wajib baca kelanjutan novel ini , ditulis sama alexandra replay dengan judul scarlet .. disana keadaan berbalik .. scarlet yang di novel pertama acuh dan seolah tidak memerlukan rhett akhirnya sadar dan berusaha keras untuk mendapatkan rhett kembali ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuppp walaupun tebel tapi buku ini gak membosankan. Lanjutannya itu udah beda penulis kan ya? ada dua pendapat sih, ada yang suggest baca, ada yang bilang cukup sampai situ saja :D

      Delete
  15. Nasib Scarlet tragis, sesuai benar dengan makna judulnya yaitu mengikuti ke mana angin bertiup. ia terombang-ambing antara perang, tekad menepati janji dan keangkuhannya sehingga setiap langkahnya seperti menjauhkannya dari impiannya.

    ReplyDelete
  16. Gak pernah habis kagum sama Gone with The Wind. Dan konsentrasi pas ending, sambil berharap salah baca, ending berubah..hehehe..
    Kisah yang luar biasa, narasinya aku suka banget. Tokoh kesukaan udah pasti Rhett Butler. Tapi buatku Scarlett luar biasa, karakterny kuat. Tidak semua novel memiliki karakter seperti ini, jadinya akan selalu diingat.

    untuk sequelnya, maaf msh kalah sangat telak dari prequel. Jelaslah, pengarangnya juga beda. Tapi cukup menghibur krn menceritakan Scarlett dengan karakter berbeda. Hanya saja secara gaya penulisan, jauh banget. Percakapan antara Rhett dan Scarlett tidak secerdas Gone with the wind

    ReplyDelete
    Replies
    1. Walaupun scarlett itu nyebelin tapi memang karakternya kuat banget, salah satu karakter yang memorable saking kuatnya :)

      Delete
  17. KA,,Saya mau analisa novel Gone with the wind ini tentang perang, dimnana dalam novel ini penulis juga memuat perang dunia ke II dan masa konstruksi paskah ,, ka tolong jelasin donk dapat referensinya dari mana ????

    ReplyDelete