Sunday, July 28, 2013

[Review] Harry Potter and Half-Blood Prince by JK Rowling


Title: Harry Potter and Half-Blood Prince
Author: JK Rowling
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Published: Januari, 2006
Pages: 816p
ISBN: 979-22-1762-2

SYNOPIS – diambil dari sinopsis dibuku terbitan GPU.


Harry di tahun keenamnya di Hogwartz diangkat jadi kapten tim Quidditch Gryffindor heran sekali, mendadak Quidditch jadi sangat sangat populer. Banyak sekali anak yang mendaftar ingin masuk tim, bahkan sampai ada anak-anak Hufflepuff dan Revenclaw yang menyelundup. Tetapi seperti kata Hermione, “Bukan Quidditch yang ngetop, tapi kau!” Kau belum pernah semenarik ini, dan jujur saja, kau belum pernah sekeren ini...seluruh dunia sihir harus mengakui kau benar soal Voldemort telah kembali dan bahwa kau telah menghadapinya dua kali dalam dua tahun terakhir ini dan berhasil selamat dalam dua-duanya. Dan sekarang mereka menyebutmu ‘Sang Terpilih’ – nah coba, tidak bisakah kau melihat kenapa orang terpesona olehmu?”. Pantas saja gadis-gadis sampai nekat mau memberikan ramuan cinta kepada Harry. Namun Harry tidak memusingkan semua itu. Hanya ada satu gadis yang memenuhi pikirannya. Lagi pula dia sangat sibuk. Tahun ini Dumbledore memberinya pelajaran privat. Mempersiapkannya menghadapi musuh bebuyutannya, Lord Voldemort. Seperti dikatakan Ron, Dumbledore pasti tak akan membuang-buang waktu untuk memberinya pelajaran kalau dia menganggap Harry pecundang – dia pasti berpendapat Harry punya peluang! Harry mengira cita-citanya untuk menjadi Auror telah kandas, karena nilai Ramuannya tidak mencukupi. Namun dia keliru. Tahun ini Snape tidak lagi mengajar Ramuan, dan Harry menjadi yang paling pintar dalam kelas Ramuan – berkat bantuan Pangeran Berdarah-Campuran!


Ada banyak pertanyaan bermunculan tiba-tiba dalam buku keenam ini. Siapakah Pangeran Berdarah-Campuran itu? Dia yang bukunya digunakan oleh Harry dalam kelas Ramuan dan membuat Harry menjadi yang terpintar bahkan mengalahkan kecerdasan Hermione. Buku yang juga memuat mantra-mantra sihir asing yang belum pernah Harry temukan, hasil ciptaan sang Pangeran Berdarah-Campuran. Lalu ada pertanyaan mengapa Dumbledore tiba-tiba turun tangan dalam pelajaran Harry, menyediakan waktu khusus untuk memberikan Harry pelajaran privat bersamanya yang kemudian menuntun pembaca mengenal istilah Hocrux. Apa itu Hocrux? Sementara semua pertanyaan itu memenuhi kepala Harry dan tentu saja kepala para pembaca, ada pula Draco Malfoy yang tiba-tiba menjadi sangat mencurigakan dengan bolak-balik masuk ke kamar kebutuhan dan yang menurut Harry sedang merencanakan sesuatu yang buruk atas permintaan Lord Voldemort.

Oke, setelah membaca enam kisah Harry untuk kesekian kali, sihir madam Rowling tidak pernah bisa dikalahkan, selalu berhasil membuatku tertawa dan tentu saja menangis di buku ini. Satu hal yang diperjelas oleh Madam Rowling dalam buku ini adalah perjalanan hidup Tom Marvolo Riddle atau Lord Voldemort. Ia memang dibesarkan di panti asuhan, namun sejak masa-masa awal hidupnya, ia telah memilih untuk menjadi penguasa atas orang-orang disekitarnya, ia telah tergoda pada kekuasaan dan immortality, sesuatu yang nampak jelas berbeda dengan Harry saat pertama kali ia mengetahui siapa dirinya dan apa yang bisa diperbuatnya. Perbedaan terbesar antara keduanya adalah Voldemort sejak awal tidak pernah merasa membutuhkan teman.

Aku masih terheran-heran bagaimana Madam Rowling menyisipkan begitu banyak hal baik dalam buku ini dengan cara cool. Ada satu momen yang sangat kusukai dalam buku ini, momen saat Dumbledore dan Harry mendiskusikan arti ramalan Profesor Trelawney, saat Harry menyadari perbedaan jelas antara diseret ke dalam arena untuk menghadapi pertempuran hidup-mati dan berjalan ke dalam arena dengan kepala tegak. Aku merasa sangat relate dengan momen itu, ada saat-saat dalam hidup, saat seseorang harus memahami situasinya terlebih dahulu sehingga saat harus mengambil keputusan mengarungi sesuatu, ia masuk ke keputusan itu dengan kepala tegak, bukan karena diseret oleh situasi. 

It was, he thought, the difference between being dragged into the arena to face a battle to the death and walking into the arena with your head held high. Some people, perhaps, would say that there was little to choose between the two ways, but Dumbledore knew - and so do I, thought Harry, with a rush of fierce pride, and so did my parents - that there was all the difference in the world. 

Selesai membaca buku ini, rasanya semakin dekat waktu untuk berpisah lagi dengan Harry, Ron dan Hermione. Ada beberapa quote yang kusukai dalam buku ini, maaf jika aku harus mengutipnya dalam versi inggris karena rasanya lebih menyenangkan seperti itu. 

“Why are you worrying about YOU-KNOW-WHO, when you should be worrying about YOU-NO-POO? The constipation sensation that's gripping the nation!” (yang ini brilian bukan, hasil kreativitas si kembar favoritku) 

“Dumbledore's man through and through, aren't you Potter?" "Yeah I am," said Harry. "Glad we straightened that out.” (wihh rasanya merinding waktu denger ini, kebayang kalau si Fawkes datang lagi) 

“The thing about growing up with Fred and George," said Ginny thoughtfully, "is that you sort of start thinking anything's possible if you've got enough nerve.” (aku selalu suka segala sesuatu yang berhubungan dengan pengaruh si kembar)

Selain itu ada momen yang tidak muncul di film dan sangat kusukai, ini dia, 

“You'd think people had better things to gossip about," said Ginny as she sat on the common room floor, leaning against Harry’s legs and reading the Daily Prophet.
"Three Dementor attacks in a week, and all Romilda Vane does is ask me if it’s true you’ve got a Hippogriff tattooed across your chest."
Ron and Hermione both roared with laughter. Harry ignored them.
What did you tell her?" I told her it's a Hungarian Horntail," said Ginny, turning a page of the newspaper idly. "Much more macho.
" Thanks," said Harry, grinning. "And what did you tell her Ron’s got?" A Pygmy Puff, but I didn’t say where.”

Welldone Madam Rowling, “me” ridiculously in love with your magical words.

Submitted for:

No comments:

Post a Comment