Thursday, July 11, 2013

[Review] 1Q84 by Haruki Murakami - Jilid 2


Title: 1Q84
Author: Haruki Murakami
Publisher: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Published: Mei 2013
Pages: 452p
ISBN: 978-979-91-0568-4

Manusia belajar mencintai dirinya sendiri dengan mencintai dan dicintai orang lain (hal 159)

1Q84 adalah konteks suatu masa, merujuk pada sebuah tempat pada tahun 1984 yang bergeser sehingga membawa perubahan pada manusia yang hidup di tempat tersebut. Huruf Q pada 1Q84 merupakan representasi dari Question, sebuah tanda tanya, yang digoreskan oleh tokoh dalam kisah ini karena disorientasi waktu dan tempat dimana mereka hidup. 

PLOT

Fuka-Eri tinggal di kelompok Sakigake, ia adalah anak dari tokoh utama dalam kelompok itu. Setiap orang dalam kelompok memiliki tugas masing-masing yang harus dijalankan dengan disiplin. Suatu hari, Fuka-Eri mendapat tugas menjaga seekor kambing buta. Kambing ini sangat berharga untuk kelompok tersebut, namun karena sibuk dengan tugas sekolahnya, ia lupa akan tugasnya dan berakibat kematian si kambing buta. Sebagai hukuman atas kelalaiannya, Fuka-Eri dikurung dalam sebuah gudang gelap bersama bangkai kambing buta selama 10 hari. Setiap hari ia kedinginan dan ketakutan melihat bangkai kambing itu. Pada suatu malam, mulut kambing itu terbuka dan keluarlah tujuh Orang Kecil, tidak lebih dari 60 cm dan memintanya membantu mereka membuat kepompong udara. Ketika kepompong udara itu hampir selesai, ia melihat kepompong udara itu berisi seseorang  di dalamnya. Siapa orang itu? Hari itu juga Fuka-Eri kabur dari kelompok Sakigake.

Seperti review 1Q84 Jilid 1 yang telah kutulis sebelumnya, kedua tokoh utama dalam buku ini, Tengo dan Aomame saling tarik menarik sebuah benang merah yang kehadirannya oleh mereka sendiri tidak diketahui. 

Tengo di suatu tempat di Tokyo terus hidup dalam ritme individual yang menarik diri dari perkembangan dunia sekitarnya, apalagi ketika ia mulai terlibat dalam penulisan sebuah buku berjudul kepompong udara yang akhirnya menjadi best seller dan mengundang banyak perhatian dari media massa. Media massa tidak percaya jika buku dengan ide dan penuturan sebaik itu dituturkan oleh seorang gadis berusia 17 tahun. Tengo hidup dalam kewaspadaan karena kapan saja kedoknya sebagai ghost writer bisa saja terbongkar. Apalagi orang-orang yang tadinya dekat dengan dia mulai menghilang satu persatu. Suatu hari munculah seorang berperawakan aneh yang menawarinya uang senilai tiga juta yen dan menawarkan perlindungan. Perlindungan atas apa? Tengo mulai menyadari kedoknya mulai terbongkar. Keadaan diperburuk dengan kembalinya Fuka-Eri, setelah beberapa waktu menghilang, muncul di Apartemen Tengo. Suatu malam, saat mereka sedang tidur, Tengo bangun tengah malam dan mendapati dirinya telanjang dan Fuka-Eri sedang berada diatasnya mencoba berhubungan seksual dengannya. Anehnya Tengo tidak bisa menggerakan anggota tubuhnya, bahkan untuk mengangkat jarinya pun ia tak bisa. Mereka melakukan penyucian, begitu kata Fuka-Eri.

Di sisi lain Tokyo, Aomame mendapat tugas membunuh pemimpin kelompok Sakigake. Suatu rencana diatur agar ia dapat memberikan pijat otot kepada sang pemimpin sekaligus kesempatan untuk menghabisi nyawanya dengan cara yang sangat halus dan tak berjejak. Pada saat rencana tersebut telah berjalan lebih dari separuh, saat ia sedang berhadapan dengan sang pemimpin misterius di sebuah kamar hotel yang dijaga ketat, ia mengetahui beberapa fakta yang membuatnya gemetar. Sang pemimpin mengetahui perasaan terdalam yang ia simpan untuk Tengo, teman masa kecilnya. Sang pemimpin pun tahu bahwa Aomame datang untuk menghabisinya dan justru memohon kepadanya untuk segera melakukan tugasnya. Sang pemimpin rupanya menderita oleh perbuatan Orang Kecil. Orang Kecil menjadikannya Reseptor, sedangkan anaknya sendiri, yang tujuh tahun sebelumnya telah melarikan diri darinya, Fuka-Eri adalah Perseptor dari Orang Kecil. Pilihan ada ditangan Aomame, menurut sang pemimpin, jika ia berhasil maka nyawa Tengo masih mungkin terselamatkan, sementara nyawanya sendiri mungkin sangat terancam oleh kelompok Sakigake. Apa pilihan yang dibuat oleh Aomame?

MUSIC and BOOK describes the CHARACTER

Murakami sempat disebut sebagai penulis yang sangat kebaratan, sedikit berbeda dengan penulis Jepang lainnya. Sebutan kebaratan ini mungkin tidak hanya karena caranya bertutur namun juga karena referensi musik klasik dan buku-buku sastra yang menjadi ciri khas Murakami. Dari dua karya Murakami yang pernah kubaca, Murakami selalu melengkapi setiap tokohnya dengan ciri yang sama. Sang tokoh adalah mereka yang menyukai musik klasik, sebut saja karya Bach dan Janacek atau buku-buku Chekov yang terus bermunculan dalam karya ini. Selera Murakami memang tidak bisa dibilang ringan, musik dan buku yang ia rekomendasikan melalui karya ini adalah kelas berat, musik yang perlu berkali-kali didengarkan untuk dapat memahaminya. Namun Murakami ingin menegaskan bahwa setiap tokoh menikmati ciri khas itu. So, tokoh yang diciptakan oleh Murakami adalah seorang penyendiri yang tak punya hubungan mendalam dengan siapapun, hobi membaca buku-buku klasik atau kontemporer dan mendengarkan lagu-lagu klasik, what a combination-MINOR-you know how hard to understand music with Minor Composition

MY THOUGHT

Tidak mengerti kalau tidak dijelaskan berarti takkan mengerti walau dijelaskan sebanyak apapun (hal 163)

Aneh rasanya membaca dua buku namun masih tidak sepenuhnya paham dengan konteks cerita yang dituturkan oleh Murakami. Entah aku yang begitu bodoh atau Murakami yang sangat mahir menyampaikan metafora. Pada jilid kedua ini, Murakami memberitahukan pembaca mengenai asal-usul Orang Kecil. Apa yang bisa artikan sebagai Orang Kecil yang keluar dari mulut bangkai kambing buta? Satu-satunya hal yang terpikir olehku adalah Metafisik. Buku ini mengandung unsur metafisik yang belum bisa kupahami. Kemarahan Orang Kecil bisa membuat langit mengeluarkan petir yang menggetarkan bumi atau hujan yang tak kunjung berhenti. 

Pada Jilid kedua ini, Murakami tampaknya mulai rela membeberkan beberapa teka-teki yang muncul pada Jilid pertama, tentu saja pemberitahuannya tidak secara gamblang, pembaca terus dipaksa berpikir dan membolak-balik halaman untuk menghubungkan setiap cerita. Cara penuturan masih dilakukan secara bergantian antara kedua tokoh utama bab demi bab. 

Novel terbitan KPG ini memiliki terjemahan yang mudah dipahami, sepertinya langsung diterjemahkan dari Bahasa Jepang. Hampir tidak ada typo dan ukuran huruf pun pas dimata. Buku setebal 452 halaman ini kuselesaikan dalam hitungan dua hari, sulit berhenti ketika sudah mulai membaca. Meminjam bahasa Murakami,  

Sebagai cerita, karya ini sangat menarik dan memiliki daya menggiring pembaca sampai tamat tanpa membuatnya bosan.

aku menunggu buku ke-3 dari trilogi 1Q84 ini.
Terimakasih KPG untuk hadiah kedua buku 1Q84.

20 comments:

  1. Terima kasih kembali. Terima kasih atas review bukunya. Menarik. :)

    ReplyDelete
  2. baca kedua reviewmu ttg buku ini ak msh g ngerti, esy. padahal udah lengkap dan keren bgt, punya satu bukunya HM dan blm minat baca, butuh otak prima :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangankan kamu sulis, aku aja yang udah baca kedua bukunya sejujurnya belum sepenuhnya mengerti wkwkwkwk *JawabanMacamApaIni*

      Delete
  3. kaya nya buku ini misterius banget ya.... review nya bagus...penasaran padahal baru liat review... semakin di baca review nya.... saya jadi makin bingung sama buku 1Q84 ini... tapi justru makin tertarik.... yaaahh apa daya buku ini harus saya jadikan wishlist... -__-'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi..iya buku ini memang unik..luar biasa membingungkan awalnya tapi karna alasan yang sama juga bikin penasaran :) makasih sudah mampir

      Delete
  4. Nice review! :)

    Baru pertama kali baca bukunya Murakami dan langsung jatuh hati seketika. Ah gak sabar mau baca jilid ke 3 nya.. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup Murakami is a great storyteller yaa :)

      Delete
  5. yang jilid ke 3 dah terbit, bagaimana menurut kalian. ada yang dah baca?

    ReplyDelete
  6. Baru baca sampai buku ke-2 chapter 19.

    Sudah jelas alur ceritanya, mudah dimengerti meskipun memang perlu sedikit berpikir. Kekuatan setiap tokoh dijelaskan secara detil. Sejarah terus diulang untuk menuntun pembaca pada setting selanjutnya.

    Satu hal yang agak janggal. Coba perhatikan semua novel karangan Murakami, hampir semua tokoh dalam 1 novel mengerti judul lagu dan penyanyinya, berikut syair lagu-lagunya. :) Seakan-akan semua orang Jepang pada tahun-tahun 80an paham akan banyak judul lagu, penyanyi, dan syairnya.

    Jilid 3 sudah punya, paling minggu depan sudah mulai baca. Masih banyak kerjaan :)

    ReplyDelete
  7. Reviewnya baru sampai jilid 2 ya? :(
    review jilid ke-3 donk, kakak...
    lagi mau nyari nih, tapi tebel banged 3 jilid, takut gak kuat bacanya... T^T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum bisa review yang ke-3 soalnya belum sempat baca bukunya. Tapi udah ada dilist bacaan sih jadi secepatnya dibaca dan direview :D

      Delete
  8. lo terlalu cepat baca karya murakami yang ini

    ReplyDelete
  9. Replies
    1. Halooo...ini terbitan KPG, di Toko Buku Gramedia atau Online seperti bukabuku.com sih harusnya masih ada :)

      Delete
  10. Salam kenal, wah ternyata saya tidak sendiri yang sedikit bingung dengan ceritanya 1Q84 ini, tapi tentu saja penasaran untuk membaca julid 2 dan 3.
    Terima kasih untuk reviewnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. yes..novel ini ternyata bagus, emang butuh kekuatan emosi membacanya, tp worth it kok

      Delete