Thursday, June 30, 2011

Review : The Count of Monte Cristo


Life is a storm, my young friend. You will bask in the sunlight one moment, be shattered on the rocks the next. What makes you a man is what you do when that storm comes. You must look into that storm and shout as you did in Rome. Do your worst, for I will do mine! Then the fates will know you as we know you: as Albert Mondego, the man! ~ Edmond

 
Marseilles, sebuah Kota pelabuhan di wilayah selatan Perancis baru saja kedatangan kapal Pharaon dibawah komando seorang pemuda yang bertugas sebagai kelasi pertama. Ia adalah Edmond Dantes, seorang pemuda yang jujur, berhati murni dan bersemangat. Setelah kematian kaptennya, Dantes diangkat menjadi kapten atas Pharaon. Ia sangat bahagia. Ia akan menjadi kapten dan ia akan segera bertemu ayah dan kekasihnya. Dantes memiliki seorang kekasih yang bernama Mercedes, seorang gadis cantik yang setia menunggunya. Lengkaplah sudah kebahagiaan Dantes ketika Mercedes bersedia menikah dengannya. Saat Dantes dihujani berkat, tanpa sepengetahuannya, musuh pun mendekat. Adalah dua orang yang terbakar kecemburuan melihat kebahagiaan Dantes. Seorang kepala keuangan kapal Pharaon, Danglars, tidak ingin Dantes menjadi kapten atas Pharaon, sedangkan seorang nelayan, Fernand, putus asa ketika melihat wanita yang dicintainya justru mencintai Dantes. Kebencian terhadap Dantes, membawa Danglars dan Fernand bersekongkol untuk menghancurkan Dantes. Disaksikan oleh Caderousse, seorang tetangga yang sudah dianggap sahabat oleh Dantes, maka rencana jahat untuk Dantes pun dimulai.

Dilatarbelakangi oleh sejarah perancis, Alexandre Dumas menyuguhkan kisah tragis kehidupan seorang pelaut Edmond Dantes yang kebahagiaannya direnggut diusia yang masih sangat muda. Dantes nyaris mengecap kebahagiaan diusia 19 tahun, namun hidup menuntutnya menjadi kuat untuk bisa menikmatinya. Dantes tidak memiliki kapasitas untuk waspada dan menduga pengkhianatan temannya, sehingga ia tidak mampu untuk membela diri. Inilah cap karakter kehidupan. Jika anda tidak cukup kuat dan waspada untuk hidup, maka dunia kapan saja bisa menggilas anda. Namun Dantes  membuat setiap musuhnya menuai akibat dari perbuatan mereka masing-masing. Ini adalah kisah tentang cinta, pengkhianatan, persahabatan, ketulusan, dan seni balas dendam yang awesome.

Novel ini dirangkai dengan menarik lewat scene yang terpisah-pisah. Pembaca akan dibawa untuk menyaksikan sebuah peristiwa yang sedang terjadi di Roma, kemudian tiba-tiba alur cerita telah melompat kembali ke Paris. Dumas bahkan menceritakan setiap tokoh secara terpisah. Jangan bingung!! Tunggulah!! Karena bagian yang paling menarik adalah ketika Dumas menarik benang merah untuk menghubungkan setiap scene dan tokoh sehingga novel ini menjadi kisah utuh yang sangat menarik untuk dipahami. Saya sangat menikmati cara penuturan seperti ini. Saya menunggu untuk paham.

Novel yang pertama kali diterbitkan sekitar tahun 1844-1846 ini pun tidak lupa diberi sentuhan eksotis. Gambaran eksotis muncul lewat berbagai lukisan, karnaval, roma ataupun paris, bahkan oleh gambaran karakter tokoh seperti Haydée dengan kecantikan dan misteri yang khas. Novel ini pun memiliki latar kota Marseilles. Sebuah kota yang berada di wilayah selatan perancis dan merupakan kota kedua terbesar di perancis (setelah Paris) yang juga adalah salah satu kota tujuan wisatawan. Bahkan ketika saya bertanya kepada paman google untuk mencari bagian-bagian yang mungkin nyata dari kisah Dumas ini, saya menemukan banyak hal yang membuat kecintaan terhadap perancis semakin bertambah.


Avenue des Champs-Élysées. Jalan luas di Paris yang merupakan salah satu jalan paling terkenal di dunia dan lokasi real estat termahal kedua di dunia setelah fifth Avenue New York. (ini adalah lokasi rumah Count of Monte Cristo di dalam novel)
Chateau d’If. Sebuah benteng yang belakangan berfungsi sebagai penjara yang terletak di pulau If sekitar satu mil dari teluk Marseille.


Salon. Kata ini sering muncul di dalam novel karya Dumas ini. Ternyata Salon adalah sebuah ruang terbuka untuk menerima tamu.
 
Dumas mendapatkan ide jenius pembalasan dendam Count of Monte Cristo dari sebuah kisah yang ditemukannya dalam sebuah buku yang ditulis oleh Jacques Peuchet tahun 1938 tentang seorang pembuat sepatu yang bernama Pierre Picaud yang juga oleh kecemburuan tiga orang temannya dituduh sebagai mata-mata inggris. Beberapa bagian serupa dengan kisah Picaud, namun untuk endingnya Dumas memilih akhir cerita yang berbeda. 

Saya masih penasaran dengan model cover terbitan bentang ini. Saya sudah sempat bertanya di group bentang, namun belum ada jawaban sampai dengan hari review ini terbit. Awal membaca novel terjemahan bentang ini, membuat saya agak pesimis karena melihat font yang begitu kecil sementara buku ini cukup tebal. Terkadang, saya merasa sudah jauh membaca, namun baru maju lima halaman, tetapi karena Dumas menyajikan kisah yang sangat menarik maka saya bisa menyelesaikannya dalam waktu enam hari (*lama yaaa...). Novel ini pun sudah banyak di adopsi ke layar lebar. Anda bahkan bisa nonton online atau download film-filmnya di ==> Film Count of Monte Cristo

-------------------------------------------
Judul : The Count of Monte Cristo
Penulis : Alexandre Dumas
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbit : Maret 2011
Tebal : 568 hal
-------------------------------------------

13 comments:

  1. Sekedar info, model untuk cover itu adalah pemeran Monte Cristo di film yg versi terbaru (th. 2002): James Caviezel. Caviezel ini juga pernah memerankan Yesus di film Passion of The Christ.

    Jadinya kasih bintang berapa dong?

    ReplyDelete
  2. ooooohhh itu toh penampakannya Salon itu, hihihihi..

    ReplyDelete
  3. ahhh suka sama gambar2nya si...salon itu kesannya mewah banget ya...tapi penjaranya tampak nggak sesuram bayanganku dari luar =D

    ReplyDelete
  4. Ahahaha, Salon! Mewah banget ya? Pas banget dengan glamornya Count. Penjaranya kurang suram mungkin karena biru lautnya Trid! Coba kalau surem, hitam, pasti seram :p

    Ayo Esi, kapan nih kita jalan-jalan ke Paris?
    *komentar ga nyambung* *ditendang Esi* *tendang ke Perancis* :p

    ReplyDelete
  5. @mba fanda : tadinya juga kupikir James Caviezel, tapi trus kok gak mirip. akhirnya aku kasi bintang 4 buat Dumas.

    @annisa : iya..aku penasaran dgn istilah itu makanya ku cari2..cakep bgt emang..ruang tamu elit.

    @Astrid : Abis itu gambar penjara yang sekarang sudah jadi objek wisata jadi pasti dirawat dengan baik. klo dulu waktu digunakan sebagai penjara mungkin lbh suram.

    @mia : ayooo ke paris. seprtnya kita berdua udah sama2 pengen ke yunani dan paris..hahaha

    ReplyDelete
  6. Wah, suka sama reviewnya Esi yang banyak gambarnya! Ternyata "salon" ruangan yang megah banget yah.

    Suka sama kalimat ini juga >>> "Jika anda tidak cukup kuat dan waspada untuk hidup, maka dunia kapan saja bisa menggilas anda." maknanya kira2 sama dengan "cerdik seperti ular, tulus seperti merpati."

    Jempol! :)

    ReplyDelete
  7. Oh, ternyata itu toh yg dimaksud 'salon' tadinya kukira tiap rumah punya salon untuk menggunting rambutnya... wkwkwkwk..

    Soal scene yang terpisah-pisah itu memang awalnya bikin pusing ya, tapi semua terangkai secara sempurna. Membaca novel ini seperti lagi nyusun puzzle, awalnya bingung, tapi kl sdh selesai dan merangkai semua scene2 itu kita baru bisa lihat keindahannya...

    ReplyDelete
  8. @melisa : iya mel bener.."cerdik seperti ular, tulus seperti merapati"

    @htanzil : iya aku nyari makna salon trus baru nyari gambar, ketemulah ruangan seperti itu, bahkan ada yg lebih mewah lagi, mungkin menyesuaikan sama kemewahan rumahnya.

    ReplyDelete
  9. saya penasaran dengan tokoh Haydee seperti apa, hehehe

    ReplyDelete
  10. iya bang @helvry aku juga penasaran dengan sosok heydee,,mudah2an aktris yg memerankan haydee di pilemnya tdk mengecewakan deh

    ReplyDelete
  11. Wah ada yang ngebahas Salon. Aku pun sempat bertanya-tanya tentang ruang yang satu ini.

    Eh gimana dengan Buyung?

    ReplyDelete
  12. nah kalo bayanganku, salon itu kayak bar gitu.wkwkwkwk.. *pembaca yg malas googling* ;p

    ReplyDelete
  13. @Aleetha : eh..aq gak tau apa itu buyung..ada ya di Monte Crito?kayaknya terlewatkan olehku deh

    ReplyDelete