Monday, March 16, 2015

[Review] Pompeii by Robert Harris

Title: Pompeii
Author: Robert Harris
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Published: September 2009
Pages: 392p
ISBN: 9789792249446

Robert Harris adalah salah seorang penulis yang membuat sejarah sangat menarik untuk dinikmati. Konon sejarah adalah topik membosankan untukku yang semasa sekolah belajar sejarah dengan metode mencatat isi buku tanpa memahaminya. Kali ini Robert Harris mengenalkanku pada salah satu peristiwa gunung meletus sekitar tahun 79 M yang menelan kota Pompeii di daerah pemerintahan Romawi kuno. Pompeii merupakan salah satu kota di daerah teluk Naples yang berkembang dengan sangat mewah untuk orang-orang terkemuka pada masa Romawi kuno. Di kota Pompeii, orang-orang kaya menghabiskan waktu mereka di ampiteater, cafe, permandian air panas, rumah pelacuran dan resort-resort mewah. Kota yang dilengkapi dengan port pelabuhan ini diapit oleh beberapa kota lain dengan sistem pengairan yang sangat komplex dan saling terhubung satu sama lain.

Di buku ini, Robert Harris mengambil sudut pandang seorang insinyur yang berperan menjadi Aquarius, ahli teknik hidrolika yang berhubungan dengan pengairan, bendungan, selat, kanal, atau tanggul. Marcus Attilius Primus ditugaskan oleh Kaisar Roma untuk menangani Aqua Augusta, saluran air yang menghubungkan beberapa kota di area teluk Naples, karena Aquarius sebelumnya, Exomnius, tiba-tiba menghilang. Attilius yang memulai tugasnya di Misenum sejak awal berhadapan dengan ancaman kekeringan, air yang seharusnya mengalir deras lewat saluran Aqua Augusta terancam berhenti mengalir, ditambah adanya kontaminasi belerang dalam saluran air. Dengan bantuan Laksamana Pliny, Attilius pun harus mencari asal kerusakan di Aqua Augusta, yang membawanya harus menuju kaki gunung Vesuvius di dekat kota Pompeii. Keterbatasan pengetahuan dan ketiadaan organisasi yang memahami vulakonologi dan mitigasi bencana geologi, warga sekitar teluk Naples, termasuk Attilius tidak memahami tanda-tanda yang telah diberikan oleh alam akan adanya bahaya yang mengancam jiwa jutaan manusia yang menghuni kota-kota di sekitar Gunung Vesuvius. Attilius tidak hanya berangkat menuju pusat bencana, tetapi dia juga dipersulit dengan politik kotor orang kaya di kota Pompeii yang juga mengancam jiwanya. Pada akhirnya, Attilius tidak hanya berhadapan dengan masalah saluran air Augusta, tetapi juga terlilit dalam misteri menghilangnya Exomnius dan pertemuannya dengan Corelia, seorang gadis yang membuatnya ingin menantang bahaya demi keselamatannya.

Buku ini ditulis dengan plot dua hari sebelum letusan gunung Vesuvius yang mengubur kota Pompeii bertahun-tahun lamanya, hingga ditemukan kembali secara tidak sengaja sekitar tahun 1748. Gambaran letusan Vesuvius diperoleh dari catatan Pliny muda yang sesungguhnya adalah keponakan dari laksamana Pliny yang digambarkan oleh Robert Harris di dalam novel ini. Robert Harris menggunakan nama asli beberapa orang yang dalam catatan sejarah menjadi bagian dari peristiwa ini. Reruntuhan Pompeii dan beberapa kota di wilayah Campania, Italia, kini menjadi salah satu situs warisan dunia yang dilestarikan oleh UNESCO. Gedung-gedung yang telah lama terkubur dalam ketebalan debu erupsi Vesuvius tidak menghancurkan seluruh kota, bahkan ada beberapa lukisan yang masih berhasil di selamatkan setelah usaha penggalian dilakukan.  

Gramedia menerjamahkan buku ini dengan cukup baik, sehingga tidak membuat detail gambaran yang disampaikan oleh Robert Harris menjadi kaku. Aku hanya memberikan 3 bintang untuk buku ini, meskipun rasanya aneh memberikan 3 bintang pada hasil karya Robert Harris, tetapi rasanya buku ini memang tidak bisa dibandingkan dengan buku Robert Harris lainnya seperti Imperium dan Conspirata yang pernah aku berikan rating 4 bintang karena plot yang lebih kompleks dan menarik.   

Count as,

Lucky No 15 Reading Challenge hosted by Astrid Lim

“It’s been there forever”

2015 TBR Pile Challenge hosted by Adam


3 comments:

  1. Aku malah duluan baca Pompeii ini dibandingkan Imperium ^^ malah lebih suka Pompeii. Conspirata belum sempat kubaca sih ^^ bukunya masih nangkring di rak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pompeii bagus sih...cuma ya karna natural disaster yaa..jadi konfliknya terasa kurang. Aku lebih suka Imperium tuh karna konfliknya antar people keren :)

      Delete
  2. waah aku boleh pinjem bukunyaa imperium and consiratanyaa gak??


    kalau mau beli dimana jg..
    :((

    ReplyDelete