Wednesday, May 17, 2017

[Review] Moloka'i by Alan Brennert

Title: Moloka’i
Author: Alan Brennert
Publisher: ST. Martin’s Griffin
Published: October 4th 2004
Page: 405
ISBN: 9780312304355

First of all I want to address the author, nice to meet you Mr. Alan Brennert! This is our first meeting and I can say that you’ve done an amazing job. I smile and weep several times during my reading, especially when the main character coped with grief and loss or when she expressed courage during difficult times.

Kisah ini dimulai tahun 1891 saat karakter utama, Rachel Kalama, berusia tujuh tahun. Rachel tinggal bersama keluarganya di Honolulu, Hawaii. Ayahnya, Henry Kalama, adalah seorang pelaut yang sering berpergian dan pulang ke rumah dengan berbagai hadiah untuk seluruh keluarga, Rachel adalah anak kesayangannya. Ibunya, Dorothy Kalama, adalah tipikal ibu rumah tangga yang hidupnya taat pada ajaran agamanya. Keluarga yang tampaknya harmonis ini, tiba-tiba terguncang ketika Rachel divonis mengidap Leprosy, penyakit yang saat itu sedang mewabah di Hawaii. Mengidap Leprosy tidak hanya membuat seorang pasien diasingkan ke koloni khusus di Kalaupapa, pulau yang terpencil bernama Moloka’i, tetapi juga berakibat reputasi keluarga yang buruk, dikucilkan oleh masyarakat dan kerap kali sulit mendapatkan pekerjaan. Leprosy adalah isu utama yang diangkat oleh penulis, isu yang mengeluarkan ketakutan terbesar seorang anak, kecemasan akan masa depan yang tak pasti, kerinduan pelukan ayah dan ibunya yang tak akan pernah terjawab, tetapi Leprosy bukanlah satu-satunya isu yang disentuh oleh penulis. Leprosy adalah wajah kematian yang menjadi latar historical dari novel ini, tetapi isu lainnya seperti kesepian, putus asa, kehilangan, rasa malu akan diri sendiri adalah isu yang sangat relevan dimasa apapun.

“Rachel would cherish that last touch for years to come, remembering the warmth of her skin, the way her big fingers almost closed around Rachel’s and the desperate love in Mama’s face as it was stolen away from her”. - p56

Memulai hidupnya di Kalaupapa, Moloka’i, Rachel tinggal di Bishop Home bersama beberapa anak seusianya, Emily, Francine, Josephina, Hazel, Hina, dan beberapa anak lainnya yang tumbuh bersama Rachel. Selain sesama penderita Leprosy, ada juga biarawati yang tinggal untuk merawat pasien penghuni Bishop Home, seperti sister Catherine yang mengenal Rachel kecil hingga ia dewasa, mereka semua seperti keluarga untuk satu sama lain. Paman Rachel, Pono, yang lebih dahulu divonis Leprosy, juga ada disana, begitu juga seorang wanita paruh baya bernama Haleola yang kemudian menjadi seperti ibu bagi Rachel. Mereka adalah keluarga baru Rachel, tetapi semua pertemuan pasti mencapai akhirnya, begitu juga Rachel akan menghadapi kehilangan satu per satu orang-orang yang mulai dan telah menjadi keluarga untuknya di Moloka’i. Ketika mulai dewasa, Rachel pun bertemu pendatang baru di Moloka’i, mereka yang awalnya bereaksi seperti dirinya saat pertama kali tiba di Moloka’i, dipenuhi kekecewaan dan putus asa, ada yang berusaha bunuh diri atau berusaha berenang kembali ke Honolulu. Lingkaran itu terus berputar, ada yang datang dan pergi. Hal yang paling menyesakkan untuk saya adalah kenyataan ketika semua yang bertumbuh besar bersama Rachel meninggal, atau ketika Rachel harus merelakkan satu-satunya anak yang ia miliki untuk diadopsi orang lain. Sesering apapun kita mengalami kehilangan, kita tak akan pernah terbiasa dengan rasa sesak itu, tak pernah ada kehilangan yang menjadi lebih mudah meskipun berulang kali terjadi. Disisi lain, keberanian Rachel untuk menikmati hidup adalah cahaya bagi kisah ini.

“You see sister? That’s all we have to do. Learn how to smile in the cannibal pot, and life would be so much easier”. – p81

“I’ve come to believe that how we choose to live with pain, or injustice, or death…is the true measure of the Divine within us”. Some, like Crossen, choose to do harm to themselves and others. Others, like Kenji, bear up under their pain and help others to bear it”. – p307

Penulis juga menunjukkan bahwa seburuk apapun keadaan disekitar, kita bisa menentukan respon terhadap keadaan itu. Dua orang bisa terpenjara dalam kondisi yang sama, tetapi bagaimana mereka bereaksi bisa sangat berbeda. Ada yang tidak punya kemampuan untuk menundukkan penderitaan sehingga berakibat buruk untuk diri sendiri dan orang lain, tetapi ada juga yang punya kekuatan – sebagian diserap dari orang-orang yang mencintai mereka – untuk memanfaatkan penderitaan menjadi kesempatan untuk menolong orang lain. Membaca buku ini, membuat saya merindukan orang-orang terdekat, merindukan keluarga, dan jadi ingin punya keluarga #lohhhmalahcurhat (tolong abaikan yang terakhir :P.

“Who can doubt the presence of God in the sight of men whom He has given wings. I recall that so precisely because I’ve had time to consider my error…..God didn’t give man wings; He gave him the brain and the spirit to give himself wings. Just as He gave us the capacity to laugh when we hurt, or to struggle on when we feel like giving up”. – p307

Buku setebal empat ratusan halaman ini ditulis dengan tempo yang steady, bukan tipe novel klasik bertempo lambat, bukan pula tipe roller coaster story yang membuat pembaca tak sabar mencapai halaman akhir. Menurut saya Moloka’i tidak bisa dinikmati dalam sekali kunyah, tetapi butuh waktu untuk merasakan setiap detail-nya, makanya saya agak berlama-lama membaca, sambil sekali-kali istirahat supaya tidak terlalu bengek karena terlalu sering menghapus air mata. Penulis menjelaskan dengan rinci aktivitas Rachel sehari-hari, apa yang ia rasakan, hasratnya yang terpendam, apapun yang normally dirasakan oleh manusia pada umumnya, namun especially manusia yang hidup dengan pemahaman bahwa kematian adalah kawan karib yang selalu ada didepan mata. Penjelasan rinci tentang Rachel membuat karakternya sangat kuat, saya seperti merasa Rachel begitu nyata, seperti seorang kawan lama yang pernah saya kenal. Begitu juga dengan beberapa karakter pendukung dalam inner circle-nya, seperti beberapa teman dekatnya -  Leilani, Kenji, sister Catherine, Haleola - serta ayahnya. Beberapa tokoh dalam novel pun merupakan bagian dari sejarah Moloka’i, seperti Father Damien dan Mother Marrianne Cope yang tetap menggunakan nama asli, serta beberapa nama fiksi yang representatif beberapa penduduk Moloka’i yang pernah disebut dalam beberapa catatan. Robert Louis Stevenson ditahun 1889 pernah menulis tentang anak-anak di Moloka’i,

“The case of the children is by far the most sad; and yet, thanks to Damien and that great Hawaiin lady, the kind Mrs. Bishop, and to the kind sisters, their hardship has been minimized. Even the boys in the still rude boy’s home at Kalawao appeared cheerful and youthful; they interchange diversion in the boy’s way; are one week all for football, and the next the devotees of marbles or of kites; have fiddles, drums, guitars, and penny whistle; some can touch the organ, and all combine in concerts. As for the girls in the Bishop Home, of the many beautiful things I have been privileged to see in life, they, and what has been done for them, are not the least beautiful”.

Alan Brennert lahir di New Jersey, tetapi kemudian pindah ke California. Ia mendapatkan Bachelor Art in English dari California State University. Selain menulis novel, Alan Brennert juga memiliki beberapa karya short story, teleplays, screenplays. Salah satu short story yang berjudul “Ma Qui”, mendapat penghargaan Nebula Award pada tahun 1992. Butuh waktu satu tahun untuk Brennert mengumpulkan semua data yang ia butuhkan untuk menulis Moloka’i, karena belum ada buku atau catatan sejarah yang mencatat secara komprehensif tentang orang-orang yang pernah tinggal di Moloka’i. Catatan yang ia buat akhirnya menjadi salah satu record yang disimpan oleh Bishop Museum yang berdiri di Moloka’i saat ini. Moloka'i menampung penderita Leprosy sejak tahun 1866 sampai 1969, tatapi saat ia menulis novel ini, tercatat masih ada kira-kira tiga puluhan orang penderita Leprosy – belakangan disebut Hansen’s disease – yang tinggal di Kalaupapa, Moloka’i atas ijin pemerintah karena Moloka’i kini telah berubah menjadi salah satu tempat wisata di Hawaii, dimana berdiri Kalaupapa National Historical Park.  

“I have no regrets, Rachel, about the life I chose. The one thing I lacked, you have in part given me. Thanks to you I know a little of the joy a mother must, the pride a child well grown. I pray you shall know it too. God bless you and keep you, Rachel”. – p359

2 comments:

  1. hi.. salam kenal.. saya lagi cari buku remains of the day..dan saya liat mba pernah mengulas buku itu.. klo boleh tau belinya waktu itu dimana ya? karena saya sedang mencari bgt buku itu. terimakasih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. halooo..aku beli buku ini udah lama banget, kalo tidak salah pas pameran. Memang rada susah untuk nyari sekarang, apalagi untuk yang terjemahan. Tapi kalau mau baca yang inggris, rasanya masih bisa order di bookdepository.

      Delete