Showing posts with label Legenda. Show all posts
Showing posts with label Legenda. Show all posts

Monday, April 23, 2012

[Review] A Single Shard, "bermimpi & berjuang ala Tree-ear"



Setiap manusia, siapapun dia, bagaimanapun keadaannya, seharusnya ia punya mimpi. Mengapa? Karena mimpi membuat setiap orang bangun di pagi hari dengan semangat baru. Demikian juga dengan Tree-ear seorang anak yatim piatu dari desa Ch’ulp’o. Sejak kecil Tree-ear tinggal di bawah jembatan bersama seorang lelaki cacat yang dia panggil Crane-man. Untuk makan, mereka biasanya mencari sisa-sisa makanan yang telah dibuang oleh warga sekitar. Meski demikian Tree-ear pun memiliki mimpi. Ia ingin menciptakan sebuah vas keramik.

Suatu hari Tree-ear mendekati rumah seorang pembuat keramik bernama Min. Ia memperhatikan barang-barang keramik hasil buatan Min. Tree-ear senang memperhatikan Min bekerja, namun Min tidak menyadari kehadirannya. Suatu hari Tree-ear mengendap-ngendap untuk melihat koleksi Min, Tree-ear tertarik dengan sebuah vas sehingga ia mengangkatnya. Kedatangan Min mengejutkan Tree-ear sehingga vas itu jatuh dan pecah. Pada awalnya Min memukulnya, namun ia langsung berhenti begitu mendengar penjelasan Tree-ear. Karena tidak bisa mengganti biaya keramik tersebut, Tree-ear mulai bekerja pada Min. Ia masih berharap bahwa suatu saat nanti, Min akan mengajarkannya cara membuat keramik. Namun berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, Tree-ear harus mengumpulkan kayu bakar, mengambil tanah liat, serta melakukan beberapa tugas di sekitar rumah Min. Pada awalnya, tangan Tree-ear nyaris tidak kuat, namun lama kelamaan, pekerjaan itu membuat tangannya menajadi lebih kuat. Awalnya ia tidak bisa mengangkat potongan tanah liat dengan benar, namun lama kelamaan ia semakin mahir, ia bahkan mulai belajar untuk membentuk tanah liat menjadi bentuk-bentuk sederhana tanpa harus menggunakan roda pemutar. Setiap hari Tree-ear berharap segera dapat duduk di depan roda pemutar tanah liat dan belajar cara membuat vas dari sang maestro, namun mimpinya seperti terhempas jatuh kembali ke bumi setelah mendengar penolakan Min terhadap mimpinya itu.
“Kau harus tahu anak yatim piatu, jika kau bisa belajar membuat keramik, pasti bukan aku yang mengajarimu”…..”Usaha seorang pengrajin diturunkan dari ayah kepada anak lelakinya…putraku, Hyung-gu sudah tiada sekarang. Dialah yang akan kuajar. Kau…kau bukan putraku” [hal 119]
Perkataan Min sempat membuat semangatnya kendor, namun Tree-ear tahu bagaimana harus mengani perasaannya sendiri dan melihat hal lain yang bisa dilakukannya, terutama karena istri min, Ajima (bibi), memperlakukannya dengan sangat baik. Tree-ear tetap bekerja pada Min, namun ia menyimpan harapan dan mimpinya di dalam hatinya.

Suatu hari Tree-ear diminta untuk mengantarkan dua buah keramik untuk seorang utusan kerajaan di Songdo. Untuk menuju Songdo Tree-ear harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki selama berhari-hari. Ajima telah membekalinya dengan makanan yang cukup, serta beberapa keping koin yang sewaktu-waktu bisa digunakannya. Perjalanan ini merupakan saat-saat penentu bagi Tree-ear. Awalnya dia tidak menemukan penghalang dalam perjalanannya, namun suatu kali ia menemukan kondisi yang sangat menyedihkan, ia tidak bisa mengelak dari nasib buruknya, dan harus melihat kedua vas keramik itu jatuh berkeping-keping. Tree-ear merasa gagal menjalankan tugas yang diberikan kepadanya.

Lalu apa jadinya nasib Tree-ear? Bagaimana ia mencari jalan keluar atas musibah yang menimpanya? Bagaimana ia harus menjelaskan peristiwa itu kepada Min? Apakah mimpi Tree-ear juga hancur berkeping-keping seperti kedua vas keramik itu?

Jika semua anak seperti yang digambarkan oleh penulis dalam novel ini memiliki mimpi, pekerjaan dan pengetahuan seperti Tree-ear, saya jadi merenung betapa luar biasanya Korea. Pengetahuan Tree-ear tidak bisa dibilang pas-pasan untuk anak seusia dia yang tidak pernah mengecap pendidikan formal. Novel ini juga memperlihatkan bahwa dalam setiap tahapan yang harus dilewati oleh manusia, ada hal-hal diluar harapan kita yang terkadang membuat mimpi kita buyar, namun seperti Tree-ear, seharusnya kita terus berfokus pada mimpi itu dan menjadi kuat dalam setiap tahapan yang kita lewati.

Karakter yang paling saya sukai tentu saja karakter Tree-ear yang pantang menyerah dan selalu memperhatikan dengan seksama. Ia selalu belajar dengan mengamati tanpa perlu bertanya lebih banyak. Namun perkembangannya tidak terlepas dari tuntunan Crane-man yang tidak hanya selalu membantu mengisi kekosongan perutnya namun juga mengisi pikirannya dengan berbagai macam ide menarik.

Novel yang mendapatkan Newbery Medal Award pada tahun 2002 ini menggunakan alur maju dan dituturkan oleh seorang narrator. Dan Ini adalah gambar cover yang paling kusukai.

 
--------------------------------------
Judul : A Single Shard
Penulis : Linda Sue Park
Penerbit : Atria
Terbit : Maret 2012
Tebal : 191 hal
ISBN : 978-979-024-491-7
--------------------------------------

Friday, March 30, 2012

[Review] perempuan cerdas pada abad kegelapan yang nyaris terlupakan



Pada abad ke sembilan, pada masa paling gelap dalam Abad kegelapan hiduplah seorang tokoh yang sangat sedikit diketahui orang. Ia memunculkan kontroversial sehingga menyebabkan semua catatan tentang dirinya dimusnahkan. Namun paling tidak, sampai dengan pertengahan Abad ke-17 namanya masih dikenal dan diakui secara universal. Ia adalah Paus Yohanes Anglicus atau Paus Joan dan ia adalah seorang perempuan. Lalu bagaimana mungkin seorang perempuan bisa menduduki kekuasaan tertinggi dalam kursi keagamaan tersebut? Anda harus kembali dan melihat jauh sebelum masa itu, pada masa ketika Joan memulai semuanya.

Joan lahir dari seorang ibu saxon yang menyembah para dewa, sementara ayahnya adalah Kanon (semacam pendeta atau imam) di sebuah desa bernama ingelheim. Ayahnya merasa telah memenangkan jiwa ibunya dari kekuasaan para dewa, membawanya ke ingelheim dan memiliki tiga orang anak darinya.  Matthew dan John , kedua kakak Joan diberikan pelajaran membaca dan menulis, namun Joan bahkan tidak boleh memegang kitab suci. Pada usia empat tahun Joan bertanya kepada Matthew mengenai perbedaan laki-laki dan perempuan. Jawaban yang diberikan oleh Matthew benar-benar tidak menentramkan hatinya. Pada usia enam tahun Joan mulai mendesak Matthew untuk mengajarkannya cara menulis dan membaca. Bagian yang paling menarik adalah ketika Joan berdebat dengan Matthew mengenai kemampuan yang dimiliki oleh Santa Kathrina. Perdebatan itu cukup panjang untuk dikutip dalam tulisan ini, jadi saya menyarankan anda untuk membacanya pada halaman 39-40 untuk melihat betapa cerdasnya Joan kecil. Kehidupan Joan berubah ketika Matthew meninggal dunia dan meninggalkan Joan yang sudah mulai mencintai pendidikan sementara sang ayah terus menjauhkan semua pendidikan itu darinya. Ketika sang ayah tahu bahwa Joan bisa membaca, ia justru menuduh Joan sebagai penyebab kematian Matthew. Lihatlah bagaimana perempuan dianggap sebagai sebuah malapetaka yang dapat mendatangkan murka Tuhan hanya karena ia bisa membaca. 
 “Kau! Suara ayahnya terdengar bergemuruh dan bergetar oleh amarah. Ternyata kau orangnya! Dia menunjuk kearah putrinya dengan mata menuduh. Kaulah orangnya! Kau membawa kemarahan Tuhan turun di rumah kita. Anak yang jahat! Durhaka! Kau membunuh kakakmu sendiri!” [hal 54]
Suatu hari seorang cendikiawan bernama Aesculapius datang berkunjung kerumah sang Kanon dan menyadari kecerdasan yang dimiliki Joan. Sang Kanon meminta Aesculapius untuk mengajar John, namun Aesculapius lebih tertarik dengan Joan. Sang kanon terpaksa membiarkan Joan mendapat pengajaran hanya agar John dapat belajar dari sang cendikiawan. Joan memanfaatkan kesempatannya dan belajar banyak hal baru. Ia tidak hanya belajar tentang  kitab suci, tetapi juga ia mulai mengenal pemikir-pemikir dunia seperti cicero dan hipokrates. Ilmu pengetahuan memuaskannya.

Selang waktu setelah Aesculapius pergi meninggalkan Ingelheim, seorang utusan dari Dorstadt mengunjungi rumah Joan dengan membawa pesan dari uskup di Dorstad agar membawa Joan ke Schola (sekolah yang pada masa itu hanya diikuti oleh anak laki-laki). Ayahnya tidak mengijinkannya, namun Joan mengambil langkah berbahaya dengan melarikan diri dan menyusul sang utusan. Sejak hari itu, Joan dan John meninggalkan rumah masa kecil mereka.

Sejak meninggalkan rumah, Joan mengalami berbagai petualangan menarik yang terkadang menciptakan “comfort zone” untuknya namun beberapa saat kemudian memporak-porandakan kehidupannya, membuatnya harus melarikan diri dan bersembunyi. Ketika John meninggal dalam serangan bangsa Viking, Joan menggunakan identitasnya untuk memasuki tahap petualangan yang baru. Sejak saat itu Joan dikenal sebagai John Anglicus.

Membaca kisah Pope Joan memancing kemarahan. Bagaimana saya tidak terpancing untuk marah, ketika mendengar isi kitab suci diartikan sangat harafiah dan perempuan diperlakukan begitu rendah.
sebab suami adalah kepala istri. Karena itu, wahai para istri tunduklah kepada para suamimu dalam segala hal” [hal 33]
Novel ini diceritakan oleh seorang narator. Alurnya mengalir cepat sehingga mempengaruhi saya sebagai pembaca bisa menyelesaikan buku ini dalam waktu yang lebih cepat. Di bagian akhir buku, penulis menegaskan mengenai tambahan cerita yang ia ciptakan sendiri untuk melengkapi kisah Pope Joan yang tidak memiliki catatan resmi. Banyak karakter yang diciptakan mengelilingi kehidupan Joan. Karakter favorit saya adalah sang tokoh utama. Sebuah bagian menarik adalah ketika Joan menghadapi situasi-situasi dilematis dimana dia harus memberikan jawaban jujur namun tidak boleh menuduh orang lain. Banyak jawaban-jawaban konyol yang mengundang tawa namun tetap menyiratkan kecerdasan yang sangat tinggi. Selain Joan, saya juga menyukai Gerold. Gerold memiliki kecerdasan yang dapat menolong Joan menyadari betapa berbahayanya cara Joan mengungkapkan segala sesuatu. Gerold tidak hanya cerdas namun juga bijaksana. Penulis menambahkan nuansa romance diantara keduanya dengan tidak berlebihan. 

Lewat novel ini saya mengetahui bahwa pada suatu masa, kehidupan di Eropa sangat menyedihkan. Perancis, Jerman ataupun Italia bukanlah sebuah Negara. Mereka semua masih berupa satu kesatuan dibawah kuasa kekaisaran. Beberapa catatan sejarah yang dimuat dalam novel ini adalah akurat, namun untuk Paus Joan itu sendiri, tidak ada catatan resmi yang menyatakan keberadaannya. Penulis menekankan bahwa Paus Joan tercatat dalam liber pontificalis (dokumen kaum propagandis) yang kebenarannya pun tidak dapat dipastikan. Namun lewat penelitiannya selama tujuh tahun, penulis menuliskan dibagian akhir bahwa Joan menjadi Paus sekitar tahun 853 setelah Paus Leo IV meninggal. Joan diperkirakan menjadi Paus selama kurang lebih dua tahun, karena Benediktus III mulai menjabat Paus pada tahun 855.

Hal menarik lainnya mengenai masa itu adalah ketika seseorang menjadi terdakwa karena sebuah tuduhan yang diarahkan kepadanya oleh seorang yang menduduki jabatan tertentu, pengambilan putusan bersalah hanya didasarkan pada berapa banyak orang yang mendukung kedua belah pihak (sang terdakwa dan sang pendakwa). Tidak ada penelusuran dan pembuktian akan tuduhan tersebut. Perkataan seseorang diterima mentah-mentah tanpa bukti apa-apa. Tingkat buta huruf pada masa itu sangat tinggi. Kota Roma menampilkan keadaan yang sangat kontradiktif.

Roma, di mata Joan, adalah sebuah kota kuno dengan kontradiksi-kontradiksi yang kelihatannya tidak mungkin didamaikan: keajaiban dunia sekaligus tempat yang kumuh dan busuk; salah satu tempat peziarahan orang Kristen dengan sebagian besar warisan seninya justru dewa-dewi pagan; sebuah pustaka dan pengetahuan, namun diisi oleh orang-orang yang tidak berhenti berkubang di dalam kebodohan dak takhayul” [hal 432]
Banyak hal yang dapat pembaca pelajari dari kehidupan Joan. Joan memiliki hati yang penuh belas kasihan, sehingga tidak heran ia pun mendapatkan banyak sekali bantuan dari setiap orang yang pernah ditolongnya pada saat ia membutuhkannya. Sedikit ketulusan dalam wujud kepedulian dan bantuan terhadap orang lain membawa kebahagiaan juga bagi pemberinya. Pembaca juga dapat belajar untuk tidak cepat putus asa terhadap keadaan yang menghimpit. Jangan fokus pada masalah, karena dengan demikian anda tidak akan pernah melihat solusinya. Namun pembaca juga bisa belajar untuk lebih bijaksana dalam mengajukan gagasan-gagasan karena tanpa disadari ada sebagian orang yang mungkin dapat menjadi batu sandungan bagi kemajuan kita sendiri.

Ada beberapa typo yang cukup mengganggu, penggunaan bahasa melayu yang terdengar aneh ditelinga ataupun pengulangan kata yang sama secara berturut-turut terkadang mengganggu kenikmatan membaca. Namun secara keseluruhan buku ini enak dibaca, terjemahannya pun jelas dan tidak kaku. Empat bintang untuk karya Donna Woolfolk yang mengenalkan saya pada seorang perempuan yang seharusnya tidak boleh dilupakan oleh dunia.



--------------------------------------
Judul : Pope Joan
Penulis : Donna Woolfolk Cross
Penerbit : Serambi
Terbit : Cetakan II, Maret 2007
Tebal : 736
ISBN : 979-1112-43-6
--------------------------------------