Showing posts with label Holocaust. Show all posts
Showing posts with label Holocaust. Show all posts

Tuesday, July 14, 2015

[Review] Number the Stars by Lois Lowry

Title: Number the Stars
Author: Lois Lowry
Publisher: HMH Books for Young Readers
Published: May, 2nd, 2011
Page: 156p
ISBN: 9780547577098
1990 Newbery Medal Winner

Membaca beberapa buku tentang pendudukan Nazi di negara-negara Eropa membuat gambaran tentang penderitaan masyarakat Yahudi menjadi sangat jelas dikepala saya. Banyak penulis dengan gamblang mendeskripsikan betapa sadisnya perlakuan tentara jerman terhadap orang-orang Yahudi, Komunis, warga Polandia, tawanan perang soviet, homoseksual, dan musuh politik dan keagamaan lainnya. Setiap buku itu menggambarkan kesedihan mereka, kematian begitu banyak orang, kehilangan orang-orang terdekat mereka, dan terlalu banyak penderitaan yang ditanggungkan pada seseorang di masa itu. Bahkan buku seperti Anne Frank pun mendeskripsikan ketakutan mereka yang terus berkembang setiap hari seiring dengan semakin gencarnya Nazi mencari orang-orang Yahudi untuk dibawa ke kamp konsentrasi. Kali ini, saya membaca kisah dari masa yang sama, tema yang sama, tetapi diceritakan melalui kacamata Annemarie yang masih berusia 10 tahun yang tinggal bersama kedua orang tuanya di Denmark. Lowry mengatakan cerita ini adalah fiktif, tetapi dibagian akhir dia pun menjelaskan keberadaan kisah nyata dibalik kisah ini, bagaimana dia berjalan-jalan di jalanan Denmark dan mendengarkan begitu banyak kisah tentang keberanian orang Denmark yang membantu ribuan orang Yahudi keluar dari Denmark menuju Sweden.

Wednesday, November 30, 2011

Review : Sarah's Key



Sebuah kisah yang mengejutkan, sangat menyentuh, dan menantang moral….penuh dengan keajaiban. Kisah ini akan menghantui, dan memperkaya diri anda

 Awalnya buku ini diceritakan dalam dua zaman yang berbeda : Juli 1942 dan Mei 2002. Kedua zaman ini sama-sama bermula di Paris, sebuah kota yang saya kenal dengan menara Eiffel-nya, yang disebut orang kota romantis dan kemewahan dunia berada disana. Semua orang mengenal wajah Paris, semua orang terkagum-kagum dengan pesona Paris, banyak wanita yang menyukai keberanian lelaki kota ini. Namun, mari kita berhenti sejenak dan kembali ke 69 tahun lalu tepat ditanggal 16 Juli 1942. Apa yang terjadi disana? Lewat karya Tatiana De Rosnay, saya mengenal satu lagi peristiwa sejarah yang pernah mencoreng wajah paris dan meninggalkan luka bagi banyak orang. Semua orang perlu tahu bahwa disuatu masa, Paris sangat mengerikan, sangat menyeramkan, dingin, gelap dan mengoyak jiwa banyak orang. Terutama mereka, anak-anak kecil dengan sebuah bintang David berwarna kuning menempel dibagian depan pakaian mereka.

Sampai halaman 183, Tatiana De Rosnay menuturkan kisahnya dengan dua cara yang berbeda. Ia mengenalkan kisah seorang anak berusia 10 tahun bernama Sarah ditahun 1942, serta kisah seorang wartawan paruh baya berhati lembut bernama Julia ditahun 2002.

Sarah tinggal di rue de saintonge bersama orang tua dan adik laki-lakinya Michel. Suatu malam dibulan Juli 1942, apartemennya digedor sangat keras. Ia menyadari ketakutan yang muncul dalam gerak-gerik orang tuanya, namun mereka tidak mengatakan apapun kepadanya. Malam itu beberapa polisi perancis datang dan membawa mereka. Michael kecil ketakutan melihat keadaan itu, sehingga ia masuk kedalam lemari tersembunyi yang biasanya digunakan ketika mereka sedang bermain. Lemari itu dilengkapi dengan buku, senter dan air minum. Sarah menyetujui tindakan adiknya, ia bahkan mengunci lemari itu dari luar dan mengantongi kuncinya. Ia berjanji akan segera kembali untuk menjemput adiknya. Polisi perancis membawa Sarah, ayahnya dan ibunya menaiki bus-bus yang juga memuat banyak orang lainnya. Ia melihat semua orang mengenakan bintang David yang sama dengan yang dikenakannya. Ia tidak tahu akan dibawa kemana atau apa yang akan terjadi kepada keluarganya. Namun ia mengerti bahwa karena lambang itulah mereka semua bernasib sama. Karena lambang Yahudi itu mereka diperlakukan seperti itu. Ia hanya berharap agar bisa segera kembali dan menjemput adiknya. Orang-orang yang biasa disapanya setiap hari, kini memandangnya dengan kebencian dan penuh rasa jijik. 

Rombongan itu dibawa ke sebuah tempat yang bernama Vélodrome d'Hiver, sebuah stadion yang sangat luas. Ribuan orang itu bercampur menjadi satu di tempat itu, tidak ada toilet, tidak ada air, tidak ada makanan. Yang ada disana adalah ratap tangis, wajah-wajah putus asa, orang-orang sakit, orang-orang yang tak kuat lagi dan akhirnya meninggal, dan anak-anak tak berdosa yang tidak mengerti apa-apa dan diperlakukan dengan sangat buruk. Mereka menuggu untuk dibawa kesebuah tempat yang bernama Auschwitz.

Vélodrome d'Hiver
Di zaman yang berbeda, Julia hidup bersama suaminya, Bertrand, dan anak gadisnya, Zoe. Mereka baru saja mengunjungi apartemen nenek Bertrand. Sang Nenek baru saja dipindahkan ke panti jompo karena menderita Alzheimer, sehingga Julia dan keluarganya lah yang akan menempati apartemen itu. Julia adalah seorang American dan bekerja untuk sebuah majalah Amerika di Paris. Suatu hari ia mendapat tugas untuk menulis sejarah holocaust yang pernah terjadi di perancis sekitar bulan juli 1942. Lewat penyelidikannya, Julia menemukan banyak hal. Disini pembaca akan mulai menemukan benang merah antara Julia dan Sarah. Namun, cerita tetap berlanjut dari perspektif yang sangat berbeda, sehingga sungguh menarik untuk dinikmati.

Kisah hidup Sarah dan keluarganya yang menderita di zaman kekuasaan Hitler itu membangkitkan emosi yang luar biasa dalam diri Julia. Ingat…emosi tidak sama dengan amarah..tolong bedakan kedua hal itu. Sarah membuat hidup Julia tidak pernah sama lagi. Julia seakan telah lama mengenal Sarah. Ia seperti bisa memahaminya. Penyelidikan Julia mendapat tantangan luar biasa dari keluarganya sendiri. Wajah Sang Nenek yang menderita Alzheimer tiba-tiba berubah pucat ketika Julia menyinggung tentang penyelidikannya. Lantas apa sebenarnya hubungan keluarga suami Julia dengan Sarah kecil?

Larut dalam penyelidikannya, Sarah mulai menyadari bahwa keluarganya pun terancam. Hubungannya dengan suaminya tidak berjalan dengan baik. Apakah ini ada hubungannya dengan penyelidikannya? Mengapa segala sesuatu disekitar Julia mulai kacau? Namun, apakah Julia menghentikan rasa ingin tahunya? Dan apa yang terjadi dengan Sarah dan keluarganya? Bagaimana nasib si kecil Michel yang bersembunyi di dalam lemari rue de saintonge? 

Story based on the history 

Pada tanggal 16 dan 17 Juli 1942 atas perintah Nazi, Polisi perancis melakukan penangkapan semua orang Yahudi di Paris dan sekitarnya. Operasi itu dinamakan Operation Spring Breeze. Perdana Menteri perancis pada masa itu memerintahkan bahwa tidak hanya laki-laki, tetapi juga wanita dan anak-anak harus ditangkap. Orang-orang yahudi itu dibawa ke Vélodrome d'Hiver, sebuah stadion indoor yang berjarak hanya dua blok dari menara Eiffel ( ironi jika membayang kedua tempat yang sangat berbeda ini hanya sedekat itu dan bisa saling membayangi ). Setelah lima hari berada disana, mereka mulai dipisahkan dari keluarga masing-masing dan dibawa menuju kamp Drancy, sebuah kamp transit sebelum mereka diangkut menuju Auschwitz. Menurut catatan Préfecture de Police, orang yahudi yang ditangkap saat itu berjumlah 13.152 orang. Pada tahun 1959, api menghancurkan hampir seluruh Vélodrome d'Hiver sedangkan sisanya lagi dihancurkan. Sekarang, ditempat yang sama berdirilah kantor Departemen Dalam Negeri pemerintah Perancis (ironic isn’t it?). Lima puluh tahun setelah peristiwa itu, tepat pada tanggal 16 Juli 1995, Presiden Perancis, Jacques Chirac menyatakan permohonan maafnya.

Oui, la folie criminelle de l’occupant a été secondée par des Français, par l’État français 
(Silahkan cari terjemahannya di google translate ya ^^)
 
Monument Vel d'Hiv
Lihatlah bayangan monumen Vel d'Hiv itu dan jaraknya ke menara Eiffel
 The Movie

16 september 2010, Sarah’s Key diangkat ke layar lebar. Untuk yang ingin menonton film ini, saya sarankan sebaiknya membaca novelnya terlebih dahulu. Setelah nonton film, saya menjadi lebih paham secara visual mengenai gambaran yang diberikan oleh Tatiana De Rosnay, namun beberapa hal yang muncul difilm memang tidak sesuai dengan gambaran novelnya. Sarah sendiri diperankan oleh artis yang sangat cantik, sementara gambaran Betrand yang menawan sama sekali berbeda dengan Betrand yang difilmkan.


sarah and her family at the Vel d'Hiver
sarah and her friend meet the Dufaure
sarah - as a young lady

----------------------------------------
Judul : Sarah’s Key
Penulis : Tatiana De Rosnay
Penerbit : Elex Media Komputindo
Terbit : 2011
Tebal : 356 hal
ISBN : 978-602-00-0923
----------------------------------------

Wednesday, October 19, 2011

Review : The Boy in the Striped Pyjamas




"He thought that all the boys and girls who lived there would be in different groups, playing tennis or football, skipping and drawing out squares for hopscotch on the ground... As it turned out, all the things he thought might be there - weren't."

Buku biru bersampul garis-garis ini menyuguhkan cerita sederhana dibawah situasi mencekam sekitar tahun 1940-1945 ketika kelompok yahudi dibantai dengan kejam oleh seseorang yang dikenal dengan sebutan “The Fury” (Istilah The Leader dalam bahasa Jerman). Peristiwa yang merampas jutaan nyawa ini tidak mudah dilupakan. Warga yahudi yang tersebar luas di dataran eropa teraniaya tanpa ampun, bahkan anak-anak dan wanita pun tidak ada artinya untuk pemimpin negeri Hitler itu. Begitu banyak kisah, kesaksian, ungkapan hati yang tercurah lewat berbagai karya yang menggambarkan betapa mengerikannya masa itu. Sebut saja Anne Frank, seorang gadis yahudi yang bersembunyi bersama keluarganya dan terus mengungkapkan isi hatinya lewat sebuah diary yang kemudian dipublikasikan dan bahkan menjadi bacaan wajib untuk sekolah-sekolah di Amerika. 

Lewat karya seorang penulis asal Irlandia, John Boyne, hadirlah sebuah kisah lain tentang dampak holocaust yang tidak hanya berimbas buruk bagi kaum yahudi, namun juga untuk masyarakat jerman saat itu. Ini adalah kisah tentang seorang anak sembilan tahun bernama Bruno yang hidup bersama keluarganya di Berlin pada masa perang dunia II. Ayah Bruno adalah salah satu orang kepercayaan pemimpin Negara itu. Suatu hari sang ayah  tiba-tiba dipindahkan ke sebuah tempat terpencil, dekat camp “Out-With” (Auschwitz). Dengan berat hati, Bruno mengikuti keinginan orang tuanya untuk pindah. Ditengah kesepiannya ditempat baru, jauh dari sahabat-sahabatnya, Bruno sering memperhatikan anak-anak berpiama garis-garis yang terlihat di kejauhan. Lahan tempat anak-anak itu berada tidak cukup jauh dari rumah barunya, namun dipisahkan oleh semacam kawat duri yang menjulang tinggi. Tempat itu terlihat sangat kering, dan setiap manusia dibalik kawat duri itu, orang dewasa maupun anak-anak terlihat nestapa, tanpa senyuman, sangat ketakutan dan bahkan ada yang meneteskan air mata.

Demi mengendalikan rasa bosan di rumah barunya, suatu hari, Bruno memutuskan untuk menjelajahi daerah baru itu. Bruno terus berjalan menyusuri tempat-tempat yang semakin tidak dikenalnya namun terus menarik rasa ingin tahunya. Sampailah  ia di balik jeruji dan menemukan seorang anak seusianya sedang duduk sendirian. Anak itu menggunakan piama garis-garis. Bermula dari sapaan biasa, menjadi perbincangan, dan akhirnya persahabatan. Setiap hari mereka berjanji saling bertemu walau hanya sebatas mengobrol. Dan tak terasa pun waktu berlalu dengan sangat cepat. 

Lantas apa konflik di dalam novel ini? Jika anda membaca sinopsi dibelakangan buku terbitan Gramedia ini, anda tidak akan menemukan satu petunjuk pun tentang kisah ini. Mengapa demikian? Saya setuju dengan tulisan di belakangan cover buku ini, jika saya bercerita lebih jauh lagi, maka saya akan merusak keseluruhan isi cerita ini.

Buku ini memang sederhana, tidak banyak hal yang bisa ditemukan dalam alur ceritanya. Namun buku ini dapat bermanfaat untuk para guru sebagai bahan diskusi sejarah. Dengan membaca buku ini, banyak pertanyaan yang mungkin muncul terkait dengan perang dunia II dan holocaust. Seandainya guru-guru di Indonesia (tepatnya guru-guru saya dulu) ikut menerapkan cara seperti itu dalam mengajarkan sejarah, pasti dulu saya akan sangat menyukai sejarah. Beberapa kritik bermunculan tentang ketidaktepatan historis dan kesederhanaan buku ini, namun sejujurnya buku ini mampu mengajarkan manusia tentang hal-hal seperti kekejaman, apatis, prasangka, diskriminasi, kekuasaan, kekejaman bahkan kesetiaan.

Dalam wawancaranya dengan David Fickling, editor dan penerbit buku ini, John Boyne menjelaskan bahwa buku ini menggambarkan “naïf dan kepuasan”, dua hal yang menurutnya adalah dua alasan utama holocaust terjadi. Buku ini pun telah diadopsi ke layar lebar dan disutradarai oleh Mark Herman pada tahun 2008.

I couldn't put it down. Through the eyes of a child it was innocent and oh, so chilling. I was hooked to the last page.
Dalla Galton
Woman's Weekly

A book that lingers in the mind for quite some time…A subtle, calculatedly simple and ultimately moving story
Irish Times

------------------------------------------------------
Judul     : The Boy in the Striped Pyjamas
Penulis   : John Boyne
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit    : Jakarta, Juli 2007
Tebal     : 240 hal
ISBN-10  : 979-22-2982-5
ISBN-13  : 978-979-22-2982-0
-------------------------------------------------------